PT Samator Indo Gas Tbk (IDX: AGII) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 79 persen secara tahunan menjadi Rp114,3 miliar sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka itu meningkat dari Rp63,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, didorong pertumbuhan penjualan dan efisiensi biaya operasional perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi yang berakhir pada 30 September 2026, pendapatan Samator tumbuh 7,5 persen menjadi Rp2,38 triliun, dibandingkan sembilan bulan pertama 2025 di angka Rp2,21 triliun.
Peningkatan pendapatan tersebut ditopang oleh pertumbuhan volume penjualan di sejumlah pasar utama, serta penerapan teknologi seperti oxyfuel burner untuk memenuhi kebutuhan gas di sektor industri.
Di sisi lain, Samator berhasil menjaga pertumbuhan beban pokok penjualan sebesar 4,34 persen, lebih rendah dibandingkan kenaikan pendapatannya. Kondisi ini mendorong laba kotor perusahaan menjadi Rp1,13 triliun, meningkat 11,2 persen dari Rp1,02 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Margin laba kotor perusahaan juga meningkat dari 46 persen menjadi 47,6 persen. Penguatan ini didukung oleh efisiensi operasional pabrik, terutama penurunan biaya listrik dan tenaga kerja per unit produksi.
Sementara itu, beban usaha perusahaan naik 8,4 persen secara tahunan seiring meningkatnya aktivitas penjualan dan distribusi. Meski demikian, Samator tetap menjaga pengeluaran melalui pengendalian biaya yang dinilai tidak esensial.
Rachmat Harsono Direktur Utama Samator Indo Gas mengatakan, pertumbuhan laba tersebut menunjukkan ketahanan bisnis perusahaan di tengah dinamika sektor industri nasional.
“Kinerja positif selama sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan ketahanan fundamental bisnis Samator Indo Gas. Pertumbuhan laba kotor dan EBITDA, disertai kenaikan laba bersih, mencerminkan upaya kami memperkuat kinerja operasional secara konsisten,” ujar Rachmat dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).
Selain laba bersih, EBITDA atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi perusahaan juga meningkat 10,7 persen menjadi Rp709,4 miliar, dibandingkan Rp640,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Margin EBITDA tercatat sebesar 29,9 persen.
Kinerja itu turut diperkuat oleh pencapaian pada kuartal ketiga 2026 yang menjadi periode dengan kinerja keuangan terkuat sepanjang tahun ini. Pada kuartal tersebut, Samator membukukan laba bersih Rp46,9 miliar atau tumbuh 18,2 persen secara tahunan, serta EBITDA Rp229,3 miliar atau meningkat 12,1 persen.
Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp110,3 miliar, naik 82 persen dibandingkan Rp60,6 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba juga didukung oleh penurunan beban keuangan bersih seiring berkurangnya saldo pinjaman perusahaan, serta peningkatan pendapatan bunga dari pengelolaan kas.
Dari sisi struktur keuangan, rasio EBITDA terhadap beban bunga meningkat dari 2,7 kali menjadi 3,1 kali. Sementara rasio utang bersih terhadap EBITDA membaik dari 3,94 kali menjadi 3,45 kali.
Perbaikan rasio tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangannya, sekaligus mencerminkan upaya pengurangan utang secara bertahap.
Perkuat Pasokan Gas Industri dan Sektor Kesehatan
Selain menjaga pertumbuhan keuangan, Samator terus memperkuat layanan pasokan gas bagi sektor industri dan kesehatan, termasuk manufaktur, pengolahan logam, dan elektronik.
Rachmat menjelaskan, perusahaan juga mengembangkan solusi teknologi untuk membantu pelanggan menghadapi tantangan operasional, salah satunya keterbatasan pasokan gas alam.
“Sejalan dengan komitmen Empowering Industry, Enriching Lives, kami tidak hanya memasok gas, tetapi juga menghadirkan solusi untuk kebutuhan pelanggan dan tantangan nasional. Di antaranya, penerapan teknologi oxyfuel burner bagi industri kaca dan keramik yang menghadapi keterbatasan pasokan gas alam, serta penyediaan dry ice kepada BMKG untuk mendukung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.
Untuk menjaga keandalan layanan, perusahaan menerapkan prinsip keselamatan, kesehatan, dan lingkungan atau Safety, Health and Environment (SHE), termasuk prosedur kerja terstandarisasi di seluruh lini operasional.
Samator juga menyatakan telah menerapkan pengujian hidrostatis terhadap seluruh tabung gasnya untuk memastikan pemenuhan standar keselamatan.
Di sisi bisnis, perusahaan memperpanjang sejumlah kontrak jangka panjang dengan perusahaan penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Kontrak pasokan langsung di lokasi pelanggan (on-site), skema pembelian minimum take-or-pay, serta jaringan layanan kesehatan menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga keberlanjutan pendapatan.
Memasuki kuartal terakhir 2026, Samator optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan laba melalui penguatan kemitraan dengan pelanggan, efisiensi operasional, serta penambahan kapasitas produksi secara terukur sesuai kebutuhan kontrak.
Perusahaan juga menargetkan pertumbuhan pendapatan pada kisaran 1 hingga 1,5 kali pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan gas di sektor industri dan kesehatan. (adv/bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100

