Sabtu, 31 Oktober 2026

Kesiapan Energi di Balik Sirine Pemadam Kebakaran Kota Metropolitan

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Mohammad Rossi (52) Komandan Peleton 3 (APD berwarna navy) Pos Rayon 1 Pasar Turi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya bersama timnya berjibaku memadamkan api kebakaran ruko penjual pelek dan ban di Jalan Dupak Rukun Kota Surabaya, Rabu (30/9/2026) malam. Foto: Meilita Elaine suarasurabaya.net

Lonceng kebakaran berdentang berulang kali, membubarkan rapat koordinasi pemadam kebakaran di pos induk Pasar Turi Kota Surabaya, Rabu (30/9/2026) pukul 20.32 WIB. Belasan petugas laki-laki itu beranjak dari tempat duduk.

Sebelumnya, suara seorang laki-laki terdengar dari sebuah handy talky (HT). Bunyinya menggema ke semua sudut ruangan.

“Rayon 1 monitor, 65 ruko Jalan Dupak Rukun,” suara itu dari petugas Command Center 112 Surabaya dan angka 65 adalah kode komunikasi untuk kebakaran.

Begitu informasi itu melintas, semua petugas di ruangan bergegas mengenakan alat pelindung diri (APD), sepatu, jaket, dan helm. Mereka naik ke dua mobil pemadam kebakaran dan berangkat.

Raungan sirine memekakkan jalan bersamaan dengan klakson yang sesekali dibunyikan. Saya yang ikut serta di dalam salah satu mobil menyaksikan pembagian peran yang mereka lakukan dalam perjalanan.

Sopir fokus memperhatikan jalan, menginjak pedal gas, dan memacu mobil. Satu petugas di baris kedua melambaikan tangan dari jendela, memberi tanda pengendara lain agar memberi jalan.

Dua petugas lain dalam regu itu duduk di atas mobil, bersiap melompat lewat tangga samping saat mobil tiba di lokasi.

Sedangkan satu petugas lain duduk di sebelah sopir. Dia adalah komandan peleton, yang memimpin tugas pemadaman malam ini. Dia harus ikut dalam setiap misi dan berkoordinasi dengan Command Center 112.

Pemimpin malam ini adalah Mohammad Rossi (52), jabatannya Komandan Peleton III. Dia bertugas melaporkan semua update pemadaman ke ruang kontrol, sehingga dia tak pernah melepaskan HT dari genggamannya, apapun situasinya.

“Dua unit (mobil pemadam kebakaran) meluncur ke lokasi TKK (tempat kejadian kebakaran),” katanya merespons informasi dari HT.

Jam di tanganku menunjukkan angka 20.37 WIB, lima menit sejak informasi pertama dilaporkan, kami tiba di pinggir jalan depan ruko pelek dan ban yang kebakaran. Rukonya nyaris tidak terlihat, tertutup dengan kepulan asap yang menghitam.

Di depan ruko, beberapa petugas sedang bersiap mendobrak pintu. Mereka tim rescue lain yang juga berangkat dari Rayon 1.

Sementara tim Rossi, bersegera menggelar selang yang ada di samping mobil, menyalurkan air, dan menyemprotkannya ke titik api sesaat setelah pintu bisa dibuka paksa.

Sekitar tiga menit kemudian, api berhasil dipadamkan. Tapi proses belum sepenuhnya purna. Petugas masih melanjutkan penyemprotan ke bangunan lain di sisi kanan dan kiri, untuk melokalisasi api agar tidak merambat.

“Sekarang masih pembasahan. Saya minta ruko di sebelah kanan dan kirinya dibuka, biar gak kena radiasi panas,” katanya padaku yang berdiri di sampingnya.

Penanganan yang tangkas malam itu berhasil membatasi area ruko yang terbakar. Dari evaluasi cepat, api menghanguskan 20 persen dari luas total 18 meter persegi bangunan.

“Dugaan sementara (penyebab kebakaran adalah) korsleting listrik. Rukonya kosong tanpa penghuni dan yang terbakar 20 persen yaitu tumpukan ban,” ungkapnya.

Setengah jam berlalu, tim Rossi dan petugas lainnya masih melakukan serangkaian pencegahan. Mengecek termometer, memastikan suhu ruangan sudah normal, hingga kebakaran dinyatakan selesai.

Pukul 21.13 WIB, petugas mulai menggulung semua selang yang terurai dan naik ke mobil. Rossi lalu menarik mundur semua petugas ke markas komando (mako).

“Untuk pemadaman dan pembahasan sudah selesai. Dua unit Rayon I persiapan kembali ke mako, 86,” kata Rossi pada HT saat mobil sudah melaju menjauh dari lokasi kebakaran.

Dalam perjalanan, Rossi bercerita pada suarasurabaya.net bahwa perjalanan pulang juga harus cepat. Karena dirinya tidak tahu situasi kedaruratan apa lagi yang menunggu di depan.

“Sehingga secepat mungkin, harus standby,” katanya dengan HT masih di tangan.

Pulang bukan berarti tugas mereka selesai. Begitu tiba di pos induk, semua petugas langsung membersihkan mobil dan mengisi penuh tangki air. Ini adalah bagian dari standar operasional prosedur (SOP) agar mobil kembali siaga sampai ada panggilan berikutnya.

Tak hanya air, petugas juga memeriksa bahan bakar minyak (BBM) mobil. Rossi kemudian masuk ke ruang penyimpanan cadangan BBM, yang kuncinya hanya dipegang setiap komandan peleton.

Dia hanya memastikan ketersediaan BBM masih ada di ruangan itu, meskipun dia belum membutuhkannya, karena dua mobil yang dia pakai timnya barusan masih terisi lebih dari 50 persen.

“Sebenarnya ada tim sarana dan prasarana BBM sendiri. Tapi tiap shift, ada cadangan di jeriken untuk sewaktu-waktu jika cadangan (BBM) di unit (mobil) menipis, bisa langsung diisi sendiri (oleh petugas),” jelasnya.

SOP itu wajib dipatuhi ketiga peleton yang ada di pos induk sebagai bentuk kesiapsiagaan personel. Terlepas dari ada atau tidaknya peristiwa kebakaran dan penyelamatan.

Siaga, Tanpa Menunggu Aba-Aba

Mohammad Rossi (52) Komandan Peleton 3 Pos Rayon 1 Pasar Turi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya yang tak pernah melepaskan HT dari genggaman saat bertugas, Minggu (27/9/2026). Foto: Meilita Elaine suarasurabaya.net

Tiga hari sebelumnya, Minggu (27/09/2026), Rossi dan timnya siaga sejak pukul 06.30 WIB, setengah jam sebelum jam kerja dimulai.

Diawali dengan serah terima HT dari Komandan Peleton II yang bertugas sejak semalam pukul 19.00 WIB sampai 07.00 WIB pagi itu. Lalu pengecekan semua unit mobil pemadam kebakaran, termasuk ketersediaan air dan BBM.

Hari berjalan landai. Sampai sore hari pukul 16.30 WIB, handphone pribadi petugas bernama Heri berbunyi. Seorang warga di Dupak Rukun meminta bantuan evakuasi seekor ular yang terlihat di saluran depan rumahnya.

Memang tidak ada bunyi lonceng disertai wajah panik dan petugas yang berlarian masuk mobil. Tapi mereka tetap berangkat saat warga membutuhkan bantuan.

“Enggak ada kejadian yang terlalu kecil. Kalau masyarakat butuh bantuan, kami siap melayani kapan pun,” kata Rossi sambil tersenyum.

Evakuasi ular adalah satu-satunya panggilan yang ditangani tim Rossi hari itu. Tapi meskipun tidak ada kebakaran, para petugas tetap harus melakukan rutinitas persiapan. Seperti latihan keterampilan (latram), yang mengasah kemampuan petugas untuk beradaptasi pada setiap misi.

Selama tiga puluh tahun Rossi menjadi pasukan pemadam kebakaran di rayon ini, tidak sekali pun rutinitas itu terlewati. Dia kemudian merinci semua jenis latram sepanjang pekan.

“Minggu gelar gulung selang. Senin latihan simpul tali temali. Selasa pengoperasian tangga untuk evakuasi korban. Rabu pompa portabel dan pompa unit kita cek lagi kesiapsiagaannya. Kamis latihan PBB. Jumat latihan breathing apparatus (alat bantu pernapasan). Sabtu formasi regu,” jelasnya.

Selain itu, Rossi juga meminta pasukannya tetap menyempatkan istirahat di sela-sela 12 jam kerja, bergantian antarpetugas. Tapi agar tetap siaga, APD harus tetap dipakai meskipun dalam posisi tidur.

Sesekali saat jenuh, timnya akan menonton TV, ada juga yang olahraga ringan. Tapi pendengaran mereka tak lepas dari HT yang ada di tengah ruangan.

“Khusus peleton saya, setelah salat asar kami main voli,” katanya dengan HT di tangan.

Kesiapsiagaan serupa saya temukan pada peleton lain di Pos Induk Rayon 1. Sehari sebelumnya, Sabtu (26/9/2026), Peleton I yang dipimpin Syamsuri melakukan pemeriksaan unit mobil sebelum menjalani shift pagi.

“Selamat pagi, Command Center. Rayon 1 Pasar Turi, Peleton I dengan kekuatan 16 personel, 7 unit ready. BBM keseluruhan cukup, alat penunjang semua ready, dan 78 titik sumur Rayon 1 terpantau aman,” lapor Syamsuri melalui HT pada Command Center 112.

Usai serah terima, selama 12 jam setelahnya, Syamsuri bersama timnya memulai tugas. Sambil melakukan kegiatan sesuai jadwal, mereka olahraga, latihan keterampilan, konsolidasi atau rapat membahas teknis tugasnya. Selebihnya duduk dan memantau HT.

Saya turut menghabiskan waktu di pos tersebut. Duduk di meja dan kursi panjang tempat para petugas berjaga sambil mendengarkan komunikasi yang masuk dari Command Center 112.

Hingga pukul 19.00 WIB, tidak ada laporan kejadian kebakaran yang butuh penanganan pos induk.

Ketika shift berganti, Peleton II melanjutkan tugas dengan prosedur yang sama. Mereka kembali melakukan serah terima, memeriksa kendaraan, dan memastikan seluruh perlengkapan siap digunakan.

Rutinitas ketiga peleton itu memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya dibangun ketika kebakaran terjadi. Bahkan saat situasi tenang, petugas tetap menjalankan serangkaian pemeriksaan dan latihan agar siap ketika keadaan darurat datang.

Urgensi Energi di Tengah Ancaman Kebakaran

Petugas pemadam kebakaran peleton 3 Pos Rayon 1 Pasar Turi Kota Surabaya menjalankan SOP pemenuhan air pascapemadaman kebakaran, Rabu (30/9/2026). Foto: Meilita Elaine suarasurabaya.net

Kesiapsiagaan itu menjadi semakin penting ketika jumlah kejadian kebakaran meningkat. Pada Rabu (7/10/2026), saya menemui Laksita Rini Sevriani, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya.

Ia menyampaikan bahwa sejak Januari hingga 7 Oktober 2026, tercatat 277 kejadian kebakaran di Surabaya. Kebakaran tidak hanya terjadi pada bangunan, tetapi juga lahan terbuka. Terutama area yang ditumbuhi alang-alang dan tumpukan sampah yang dibakar lalu ditinggalkan hingga api merambat.

“Perubahan cuaca El Nino mempengaruhi suhu udara di Surabaya. Membuat rumput kering di lahan terbuka Surabaya yang banyak, bergesekan dengan angin yang menimbulkan panas dan menimbulkan api,” terangnya soal kebakaran lahan.

Sementara saat musim hujan, kebakaran didominasi bangunan atau rumah karena korsleting listrik. Tapi bagaimanapun cuacanya, Rini memastikan, petugas pemadam kebakaran wajib siaga 24 jam.

DPKP Kota Surabaya memiliki 700 personel, 650 di antaranya bertugas di lapangan. Mereka terbagi ke dalam lima wilayah atau rayon di seluruhSurabaya.

Rayon 1 di Jalan Pasar Turi adalah pusat atau pos induk. Operasionalnya didukung 86 unit mobil pemadam kebakaran dan 12 sepeda motor untuk membantu menjangkau lokasi kejadian.

“Lima rayon, 17 pos, dan 1 poskotis (pos komando taktis) pembantu di TIJ (Terminal Intermoda Joyoboyo),” tambahnya.

Untuk mendukung operasional tersebut, setiap unit harus selalu memiliki air yang cukup. Petugas di setiap rayon juga rutin memeriksa ketersediaan air pada sumur atau tandon yang tersebar di Surabaya.

“Kita punya 414 sumur atau tandon yang tersebar di seluruh Surabaya. Kalau ada kedaruratan, semua unit standby, dan air sudah terisi penuh. Jadi langsung berangkat dalam kondisi terisi air,” katanya.

Satu kebutuhan yang sama pentingnya dengan air, kata Rini, adalah BBM. Setiap unit mobil tidak boleh terisi kurang dari 50 persen.

Dalam situasi pemadaman kebakaran, ketika kendaraan harus terus beroperasi dan tidak memungkinkan antre ke SPBU (stasiun pengisian bahan bakar umum), tim sarana prasarana (sarpras) wajib membawa jeriken BBM cadangan ke lokasi.

Ketersediaan BBM harus dijaga agar mobil tidak kehabisan bahan bakar saat proses pemadaman berlangsung. Karena saat kebakaran membutuhkan penanganan yang lama, mesin mobil harus tetap menyala untuk mendukung penyaluran air.
“(Pembawa) BBM cadangan itu standby di lokasi untuk memastikan BBM enggak berkurang ketika mobil menyala terus. Dia pakai jeriken besi dan mengisi ke beberapa unit mobil,” tambahnya.

Menurut Rini, DPKP telah mengantongi surat izin dari Pertamina untuk pembelian BBM menggunakan jeriken sesuai kebutuhan operasional.

“Jeriken itu harus penuh terus. Satu mobil memiliki beberapa jeriken yang terbuat dari besi dan letaknya ada di bak terbuka,” katanya.

Kata Rini, kebutuhan BBM untuk operasional pemadam kebakaran Surabaya dalam satu tahun mencapai 50 juta liter, dengan berbagai jenis yaitu solar, dex, atau dexlite.

Menjaga Pasokan Energi Layanan Publik

Petugas pemadam kebakaran peleton 3 Pos Rayon 1 Pasar Turi saat menggunakan BBM cadangan di jeriken untuk diisi ke mesin yang dipakai menyalurkan air ke tangki mobil, Rabu (30/9/2026). Foto: Meilita Elaine suarasurabaya.net

Ahad Rahedi Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus berkomitmen mendukung operasional pemadam kebakaran sebagai layanan publik, termasuk melalui pemantauan ketersediaan BBM di SPBU Kota Surabaya.

“Di Surabaya ini ada beberapa titik mako damkar. Di sekitarnya tersedia SPBU yang beroperasi bahkan 24 jam,” ujarnya.

Pertamina berupaya memastikan agar BBM selalu tersedia, terutama di SPBU dengan lokasi strategis yang membutuhkan layanan tinggi.
“Kuncinya, kami monitoring ketersediaan suplai di masing-masing SPBU,” kata Ahad.

Selain memastikan ketersediaan stok, bentuk dukungan Pertamina untuk kesiapsiagaan pemadam kebakaran di Surabaya adalah memberikan surat rekomendasi pembelian BBM subsidi dalam kemasan.

Dukungan tersebut berkaitan dengan kebutuhan petugas yang tidak selalu dapat meninggalkan lokasi kebakaran untuk mengisi bahan bakar. Dalam situasi tertentu, cadangan BBM perlu dibawa langsung ke lokasi agar kendaraan tetap bisa beroperasi.

Di Pos Induk Rayon 1 Pasar Turi, kesiapsiagaan tidak berhenti ketika api padam. Selang yang terurai harus kembali digulung, tangki air penuh kembali, dan memastikan ketersediaan BBM sebelum panggilan selanjutnya datang.

Selama lonceng bisa berbunyi kapan saja, personel dan kendaraan harus selalu siap berangkat. (lta/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Sabtu, 31 Oktober 2026
35o
Kurs