Selasa, 11 Agustus 2020

Wisata Bahari Sontoh Laut, Bangkit Meski Terhimpit

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan

Di balik riuhnya roda-roda kendaraan besar yang tak henti menggilas aspal, bisingnya deru kendaraan bermuatan berat yang lalu lalang di kawasan industri tersibuk di Surabaya, di pergudangan Margomulyo, vegetasi Sontoh Laut yang asri berdiri.

Ada getir dalam suara Shodiq Mahfudz, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sontoh Laut, waktu menjelaskan asal mula berdirinya wisata bahari Sontoh Laut di Kelurahan Greges, Kecamatan Asemrowo.

“Kami ini mendapat serangan industri. Posisinya terjepit di area industri. Wilayah sini 95 persen industri, 5 persen sisanya untuk permukiman, sehingga wisata ini sebagai cara untuk bertahan hidup,” ungkap Mahfud.

The power of kepepet,’ begitu Mahfud mengistilahkan proses Sontoh Laut menjadi wisata bahari. Mahfud menyadari betul, warga di pesisir Sontoh Laut yang bermata pencaharian nelayan semakin tahun kehidupannya bukan kian baik tapi kian merosot karena dikepung wilayah industri.

Perahu-perahu nelayan yang ada di hutan mangrove Wisata Bahari Sontoh Laut. Foto: Anton suarasurabaya.net

Masalah limbah mengakrabi permukiman mereka. Limbah dikirim bukan hanya dari laut, melainkan dari darat dan udara, dan berdampak pada hasil tangkapan ikan yang makin sulit tiap harinya.

“Di wilayah kami dulu banyak sekali ikan tapi sekarang banyak yang punah karena dampak industri. Kalau dulu waktu kecil saya masih sering mandi di laut, sekarang lihat airnya item begitu siapa yang mau? Jangankan manusia, ikan aja mungkin mati kalau hidup di situ?” ucapnya saat dihubungi suarasurabaya.net, Selasa (28/7/2020).

Berulang kali Mahfudz dan warga menyurati dinas terkait perihal perusahaan yang membuang limbah sembarangan, tetap saja tidak ada tindakan yang datang.

Bukan hanya limbah, masalah lain juga dihadapi masyarakat pesisir, yaitu penyerapan tenaga kerja yang sangat minim. Pria berusia 48 tahun ini mengibaratkan wilayahnya bagai ayam mati di lumbung padi.

“Kami ini ibarat dikelilingi ‘emas’ tapi yang memanfaatkan, ya, orang luar. Kami enggak dapat manfaatnya. Mau ngelamar kerja juga ditolak karena warga kami nelayan, kalau mereka disuruh kerja di darat enggak sanggup karena kompetensi. Kalau di darat butuh skill, ini (nelayan) cuma butuh fisik. Seandainya saja ada peraturan pemerintah untuk menyerap tenaga kerja dari warga sekitar,” katanya.

Tak mau berlarut-larut dalam himpitan itu, Mahfudz menginisiasi terbentuknya Pokdarwis Sontoh Laut sejak November 2019 silam. Mahfudz sadar betul potensi wisata alam yang ada di daerahnya. Berkat pengalamannya sebagai Ketua RW selama dua periode, mulai 2014-2019, ia berdiskusi dengan warga, potensi apa yang bisa digali lebih?

Layaknya tempat wisata yang masih belum ramai terjamah, Sontoh Laut punya kawasan perairan dan hutan mangrove yang bersih. Tak heran bila puluhan ribu burung dari ratusan jenis fauna betah bertengger di balik rimbunnya pepohonan mangrove.

Burung-burung yang bertengger di balik rimbunnya pepohonan mangrove di Wisata Bahari Sontoh Laut. Foto: Anton suarasurabaya.net

Awal mula wisata ini digarap secara serius dari tradisi larung laut yang diadakan warga tiap seminggu setelah hari raya Idul Fitri. 2019 lalu, warga mengajak serta Bambang Udi Ukoro Camat Asemrowo. Dari situ warga bermusyawarah bersama camat, tokoh masyarakat, dan sesepuh desa, untuk menggali potensi Sontoh Laut.

Musyawarah ini berlanjut dengan pembentukan Pokdarwis. Setelah itu, beragam acara diadakan untuk mempromosikan Sontoh Laut. Seperti upacara 17-an dengan latar belakang matahari terbit, ikrar sumpah pemuda, juga penanaman mangrove serentak.

Sejak saat itu, Sontoh Laut mulai dilirik beberapa perusahaan besar untuk CSR, sehingga berbagai fasilitas pelengkap perlahan mulai terbangun. Bambang mengatakan salah satu upaya promosi Sontoh Laut adalah dengan mengadakan event dan menggerakkan UKM.

“Kami mendorong dengan mengadakan acara dan lomba-lomba. Rencananya kami mau mengadakan acara Hari Jadi Kecamatan Asemrowo di sana tapi tertunda karena pandemi ini,” tuturnya saat dihubungi Suara Surabaya, Selasa (28/7/2020).

Berkali-kali terjatuh, berkali-kali lipat pula Mahfudz sebagai penggagas Pokdarwis bangkit. Memulai hal baru sekaligus meyakinkan dan menyadarkan orang banyak bukanlah hal mudah, semudah membalikkan telapak tangan, terlebih yang dihadapi warga kampungnya sendiri.

Dianggap gila dan nyeleneh sudah jadi makanan sehari-hari oleh pria yang berprofesi sebagai supplier hasil tangkapan ini. Mengemis ke kanan dan kiri mencari kucuran dana dari sponsor dia lakukan, karena perhatian dari pemerintah tak kunjung tiba.

Saat ditanya, apakah ada momen yang membuat dia menyerah? Dari ujung telepon sana Mahfudz mantap menjawab, “jarang ada orang yang mau berkorban, tapi tetap harus ada yang mendahului dalam rangka memulai. Saya mikirnya ini cuma mbok menowo wisata ini ternyata hasil, bisa jadi ladang ibadah amal jariyah saya buat orang banyak dan anak cucu kelak.”

Diakui pria berkacamata ini, sampai detik ini pembangunan pariwisata di Sontoh Laut masih jauh dari sempurna meski menara pandang setinggi 10,5 meter dan tambat laut sudah dapat dinikmati. Dengan berapi-api di ujung telepon sana, ia menceritakan pemandangan apa saja yang akan didapat pengunjung seandainya semua selesai dibangun.

“Dibandingkan wisata yang lain, view-nya indah sekali karena dikelilingi aktivitas bongkar muat depo kontainer, pemandangannya seperti jerapah sedang makan. Ada campuran industrialisasi dan wisata yang masih asri. Berbeda dengan wisata mangrove lain yang pemandangannya laut lepas aja. Dari sisi utara bisa dilihat kegiatan industri, dari sisi selatan asli pemandangan laut yang indah dan ribuan burung yang bersarang di pohon mangrove.”

Tanpa dukungan istri dan ketiga anaknya, serta sejawat di Pokdarwis di kampung lain, Mahfudz mungkin tak akan tegak berdiri sampai sekarang. Mimpinya terlalu besar untuk dikerdilkan oleh keadaan.

“Yang membuat kami tidak menyerah, karena kita punya mimpi besar seandainya jadi kenyataan. Wisata ini akan mengubah nasib kami karena semua akan jalan, baik dari UKM maupun nelayannya. Itu yang membuat kami tetap tegar,” kata Mahfudz.(dfn/tin/ali)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Hendra Lukas P. Hutagalung

Potret NetterSelengkapnya

Pelangi Sore Hari di Surabaya

Kangen Tanggapan

Unjuk Rasa Aliansi Pekerja Seni Surabaya

Truk Patah As di Gedangan

Surabaya
Selasa, 11 Agustus 2020
27o
Kurs