Asosiasi Pengusaha Cold Storage (APCI) Jawa Timur akan menunggu hasil diplomatik pemerintah pusat dengan pemerintah China soal embargo produk udang Indonesia. Ini ditegaskan JOHAN SURYADARMA Ketua APCI Jawa Timur, Senin (06/08).
Pada suarasurabaya.net, JOHAN mengatakan, APCI tidak gegabah dengan embargo China. Pasalnya, sampai saat ini Departemen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Luar Negeri dan instansi terkait di pemerintahan pusat secara intens melakukan pembicaraan dilpomatik dengan pihak pemerintah China.
“Pusat melakukan koordinasi dan menelusuri apakah memang ada peringatan awal dari Pemerintah China soal embargo. Karena tiba-tiba embargo dijatuhkan China dengan produk udang. Seharusnya sebelum ada embargo harus diawali dengan peringatan,”kata JOHAN.
Keputusan embargo China, kata JOHAN, langsung diturunkan dari Beijing tanggal 3 Agustus lalu. Berdasarkan hasil penelitian, secara terus menerus dalam produk udang Indonesia ditemukan zat antibiotik dan kandungan logam berat serta logam berbahaya lainnya.
Sebenarnya, masalah kandungan zat kimia juga terdapat di produk ikan maupun udang dari negara-negara lainnya. Adanya zat antibiotik dalam produk seafood, menurut JOHAN, disebabkan dulu belum punya alat untuk mendeteksi masalah itu. Saat ini sudah mempunyai alat, tapi bukan itu masalahnya, melainkan early warning system yang harus dimulai dari hulu hingga ke hilir dalam industri seafood Indonesia.
Selama ini yang sudah ditangani baru di hilir atau pabrik-pabrik pengolahan ikan dan udang. Sementara di hulu, mulai nelayan hingga petani tambak, sosialisasi belum maksimal terkait kandungan zat antibiotik dalam produk mereka.
“Untuk itu, APCI Jawa Timur sudah minta Gubernur Jatim untuk menggerakkan kembali pembinaan pada nelayan. Tujuannya, meningkatkan kesadaran nelayan dan petani tambak tidak menggunakan bahan-bahan yang berbahaya saat membudidayakan produknya,”tegas JOHAN.
Dengan embargo China, kata JOHAN, pihaknya belum bisa memprediksi nilai kerugian di industri seafood. Tapi nilai ekspor untuk ikan dan udang mulai Januari hingga Juli 2007, –sesuai data Dinas Perikanan—sebesar US$ 1,5 juta atau 1350 ton. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

