Pelaku bisnis yang sangat terpengaruh pada nilai tukar rupiah disarankan untuk wait and see. Ini untuk melihat apakah dampak krisis subprime mortgage (kredit perumahan) di Amerika Serikat yang sekarang merontokkan bursa saham di seluruh dunia bisa cepat diatasi atau masih bertahan sampai jangka waktu lama.
NARTIYAN ADHANA Dosen Luar Biasa Finance dan Internasional Bisnis Universitas Airlangga pada Suara Surabaya, Kamis (16/08), mengatakan subprime mortgage di Amerika Serikat memang berdampak luas di dunia. Kegagalan mortgage ini direspon pasar yang khawatir dengan anjloknya pasar saham. Imbasnya, para investor beramai-ramai melepas saham mengambil posisi aman.
Kondisi ini diperburuk dengan pendapat ahli ekonomi dunia yang mengatakan kalau kondisi ini belum yang terburuk sehingga pelaku pasar mengambil posisi. Dan pertimbangan menjelang long weekend dengan sentimen negatif cenderung membuat investor melepas saham lebih banyak lagi.
NARTIYAN menambahkan lebih baik berjaga-jaga “prepare for the world” karena Bank Indonesia sudah melakukan intervensi. Pemerintah juga sudah melakukan kebijakan dengan mendukung dan memberi penjelasan agar investor tidak panik. “Kalau investor kita panik, lalu melikuidasi semua portfolionya dan menarik keluar dari Indonesia ini bisa membuat rupiah makin terpuruk,”pungkasnya. (nuke/tin)
NOW ON AIR SSFM 100

