Selasa, 31 Maret 2020

Ekspor Pakaian Jadi Bali Tergerus Garmen Asing

Laporan oleh Restu Indah
Bagikan

Bali meraup devisa sebesar 6,36 juta dolar AS dari ekspor pakaian jadi bukan rajutan selama Februari 2014, angka ini menurun 4,83 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 6,67 juta dolar AS.

Padahal, matadagangan pakaian jadi itu mampu memberikan sumbangan sebesar 15,79 persen dari total ekspor Bali sebesar 40,30 juta dolar AS selama Februari 2014.

Hasil kreativitas pekerja skala rumah tangga maupun perusahaan skala kecil di Pulau Dewata yang menembus pasaran luar negeri itu antara lain berupa pakaian jadi (busana) yang cukup diminati konsumen mancanegara.

Aneka jenis pakaian itu dirancang dengan disain yang unik dan menarik, termasuk dipadukan dengan manik-manik, sehingga mempunyai ciri khas sebagai daya tarik tersendiri.

Menurut Ketut Teneng kata Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Bali, pakaian untuk semua umur, baik pria dan wanita itu paling banyak diserap pasaran Amerika Serikat yang mencapai 18,23 persen dan Jepang 4,48 persen dan Singapura 6,85 persen.

Selain itu, juga pasaran Australia 11,66 persen, Prancis 13,01 persen, Hong Kong 0,66 persen, Spanyol 4,15 persen, Italia 7,47 persen, Belanda 1,25 persen, Jerman 2,24 persen dan 29,95 persen sisanya diserap berbagai negara di belahan dunia.

Perdagangan pakaian jadi sekarang tidak lagi yang terbesar, melorot dari peringkat pertama menjadi keurutan ketiga setelah kerajinan kayu dan ikan termasuk udang.

Dengan demikian banyak pengusaha pakaian di Pulau Dewata sekarang tidak lagi terlalu bergairah, mengingat pangsa pasar yang semakin berkurang, disamping adanya persaingan ketat dari negara tetangga serta kondisi ekonomi konsumen belum pulih benar.

Pengusaha pakaian di Bali kini banyak berpaling dengan merebut pangsa pasar lokal hanya untuk bisa bertahan hidup.

Hal itu sebagai akibat banyaknya pengusaha garmen di Bali adalah orang asing yang bekerja sama dengan rekan bisnisnya untuk menguasai pangsa pasar yang ada di negaranya, sehingga pengusaha lokal sedikit berkurang melakukan produksi untuk ekspor. (ant/rst)

Foto : Ilustrasi

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Mobil Terbakar di Karah Indah 1

Penyemprotan Disinfektan di A.Yani

Truk Terguling di Karang Pilang

Biasanya Berjubel, Kini Sunyi

Surabaya
Selasa, 31 Maret 2020
27o
Kurs