Minggu, 11 Oktober 2026

Masih Amatiran, BI Diminta Serius Jaga Inflasi

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan

Komisi XI DPR meminta agar Bank Indonesia memberi perhatian serius kepada masalah inflasi yang tidak pernah ditangani dengan instrumen yang memadai.

Sebab, beberapa bulan terakhir, laju inflasi dirasakan telah mempengaruhi daya beli masyarakat dan secara struktural berdampak pada kondisi ekonomi nasional.

Seperti diungkapkan oleh Mukhamad Misbakhun anggota Komisi XI DPR RI, manajemen pengendalian inflasi yang dilakukan oleh BI sebagai penanggungjawab dan penjaga stabilitas inflasi masih sangat amatiran.

“Padahal inflasi punya dampak yang luar biasa pada sistem ekonomi. BI rate tidak bisa turun kalau inflasi masih tinggi. Kredit bank tidak bisa turun kalau BI rate masih tinggi. Cost of fund kita buat sektor riil jadi mahal,” tegas Misbakhun dalam rapat dengan Gubernur BI, Kementerian Keuangan, Bappenas, dan BPS, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (8/6/2015).

Hadir dalam acara itu sejumlah pejabat seperti Agus Martowardojo Gubernur BI dan Bambang Brodjonegoro Menkeu.

Menurut Misbakhun, pihaknya sudah berkunjung ke berbagai daerah, yang menerapkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Namun, ditemukan TPID saja tidak cukup dan inflasi tetap terjadi akibat dalamnya masalah ekonomi. Kerap ditemukan juga tidak ada kebijakan yang disiapkan selepas adanya kebijakan tertentu yang bisa memicu inflasi seperti kenaikan harga BBM.

“Yang seperti ini kan dampaknya bisa kita prediksi. Tapi karena cara menangani amatiran dan belum serius, akibatnya makin sulit,” kata dia.

“Instrumen kebijakan yang digunakan untuk mengendalikan inflasi ini masih sangat terbatas dan kurang diberi kewenangan yang luas. Padahal Volatile Food Inflation, Core Inflation dan Administrative Price Inflation itu masih manageable.”

Politikus Golkar ini menjelaskan, BI memiliki instrumen besar yang bisa digunakan dalam bentuk cadangan dan surplus. Baginya, BI seharusnya bisa menggunakan instrumen itu seperti dalam operasi pasar.

“Janganlah cadangan hanya dibekap terus sama BI sendiri kemudian digunakan untuk biaya operasional saja. Ini menurut saya sangat penting untuk mengontrol inflasi dengan baik,” katanya.

Misbakhun juga bicara soal fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap US Dolar (USD). Selama ini, selalu disebut akar permasalahan rendahnya nilai rupiah adalah kondisi global dan kebijakan Bank Sentral AS, The Fed.

Hal demikian sebenarnya bisa diprediksi, dan harusnya disiapkan kebijakan untuk mengatasinya. Sebab bila tidak, kata Misbakhun, maka kesimpulan yang muncul adalah BI sedang mencari keuntungan dari naiknya harga USD.

“Karena bagaimanapun juga salah satu sumber pendapatan BI adalah dari kenaikan itu. Saya usul Komisi XI, kalau perlu, kita kunjungan kerja ke BI. Supaya tahu bagaimana kerja BI dalam mengontrol nilai rupiah,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Misbakhun meminta agar jajaran Pemerintah menyiapkan asumsi makro untuk RAPBN 2016 secara lebih realistis sesuai kondisi di lapangan.

“Kalau memang ada optimisme pertumbuhan itu akan naik, kenaikan paling masuk akal berapa? Saya mendukung optimisme Pemerintah. Tapi harus realistis dan harus bisa diterima pasar dengan baik,” kata Misbakhun.(faz/iss/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Minggu, 11 Oktober 2026
30o
Kurs