Petang sudah menjelang ketika lebih dari seribu wisatawan dari berbagai negara mengantri di sebuah dermaga di tepian Chao Phraya, sebuah sungai sepanjang 372 kilometer yang membelah Kota Bangkok, Thailand, Sabtu (28/3/2015). Mereka rela mengantri, berdesakan demi menunggu kapal yang akan mereka tumpangi.
Kehidupan malam di kota dengan penduduk lebih dari enam juta jiwa ini memang tak pernah mati. Sungai Chao Phraya adalah salah satu buktinya. Sungai yang masih dijadikan jalur transportasi ini, jika malam hari berubah menjadi sebuah objek wisata yang menarik.
Beberapa kapal pesiar sengaja sandar untuk menjamu para turis, sebuah jamuan makan malam romantis sambil menyusuri Sungai Chao Phraya. Selain naik kapal pesiar mewah, makan malam disuguhkan dengan hiburan tari-tarian dan live music selama kurang lebih dua jam perjalanan.
“Biaya sekali naik dan makan malam romantis antara 750 baht hingga 1500 baht, atau paling mahal setara Rp800 ribuan,” kata Wararat Thamchai, penduduk setempat yang kebetulan fasih berbahasa Indonesia.
Untuk urusan halal, ternyata pengelola sudah menyediakan paket yang berisi menu-menu makanan halal.
Ketika suarasurabaya.net, beserta rombongan dari pemerintah Jawa Timur membeli tiket untuk ikut makan malam romantis ini, ternyata langsung dikelompokkan dengan rombongan dari Iran yang mayoritas juga muslim sehingga urusan makanan jadi tidak kawatir lagi.
Makan malam romantis ini berasa istimewa karena kapal pesiar yang ditumpangi sengaja menyusuri sungai yang di kiri kanannya terdapat beragam objek wisata seperti candi Wat Arun yang tersohor itu hingga Grand Palace.
Di sungai ini, objek wisata ternyata juga buka 24 jam. Jika malam hari romantisme sengaja dijual maka di pagi hingga sore hari, maka eksotisme bangunan di sepanjang kiri dan kanan sungai juga menjadi suguhan yang tak bisa dilewatkan.
Bahkan beberapa pasar tradisional yang menjajakan aneka oleh-oleh khas Thailand juga menjamur dan tinggal menyesuaikan kantong. Salah satu pasar yang banyak dikunjungi adalah pasat Wat Arum yang memang berada persis di samping candi Wat Arum.
Berbelanja di Wat Arum tak ubahnya di pasar tradisional Surabaya. Para pedagang di sana fasih berbahasa Indonesia. Dagangannya pun, berupa kerajinan tangan khas Thailand, seperti kalung, gelang, kaos dengan ragam gambar dan tulisan khas Thailand dan bisa ditawar pula. Menariknya, mereka juga menerima pembelian dengan mata uang rupiah.
Padahal para pedagang di Pasar Wat Arun ini bukanlah pendatang asal Indonesia. Mereka adalah penduduk asli setempat.
Suratriono, wisatawan asal Surabaya mengisahkan, ketika terakhir kali berbelanja souvenir khas Thailand di Pasar Wat Arun pada tahun 2002 silam, para pedagang tidak bisa berbahasa asing. Mereka dulu menawarkan dagangannya dengan memakai bahasa setempat.
“Jangankan bahasa Indonesia, bahasa Inggris pun pada tahun 2002 mereka belum bisa,” katanya.
Cara menunjukkan harganya pun, mereka hanya mengandalkan angka di kalkulator yang mereka ketik manual dan diberikan ke wisatawan.
Tampaknya kini para pedagang di pasar Wat Arun sudah berkembang pesat dengan menguasai bahasa Indonesia dan menerima pembelian dengan mata uang rupiah.
Piyaphat Khankeaw, salah satu warga lokal mengatakan, selain fasih berbahasa Indonesia, para pedagang Pasar Wat Arun juga menguasai bahasa Cina, Jepang dan Inggris. “Mereka belajar sendiri dengan baca buku empat bahasa itu,” katanya.
Wisata sungai di Thailand tentu jauh lebih maju jika dibandingkan Surabaya. Bahkan meski Surabaya kini mulai menjadikan Kali Mas sebagai ikon wisata sungai, namun fasilitas di Kali Mas yang minim memang belum bisa disandingkan dengan Chao Phraya.
Apalagi di Kali Mas, yang ada hanyalah objek yang ada di kiri kanan sungai, itupun hanya berupa taman. Sedangkan sungainya sendiri belum dimanfaatkan dengan baik. Penduduk Surabaya sendiri juga masih menjadikan Sungai sebagai pencegah banjir dan belum bisa memanfaatkannya sebagai objek wisata penarik minat turis.
“Saya pernah ke Surabaya dan lihat monumen kapal selam. Sungai di sampingnya sebenarnya sudah bersih, sayang belum dimanfaatkan dengan maksimal,” kata Piyaphat Khankeaw. (fik/dwi)

NOW ON AIR SSFM 100

