Kamis, 7 Juli 2022

Indonesia Harus Kuasai Pasar ASEAN

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Diskusi soal industri di Gedung DPR RI bersama Pimpinan Pusat Ikatan Alumni (PP-IKA) Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Jumat (16/9/2016). Foto: Faiz suarasurabaya.net

Satya Widya Yudha Anggota Komisi VII DPR RI mengatakan, Indonesia harus menguasai pasar ASEAN, dan bukannya dikuasai oleh pasar ASEAN, dan asing di era pasar bebas ASEAN (MEA) sekarang ini. Langkah ini penting, karena dunia dan ASEAN sedang mengincar Indonesia sebagai tujuan pasar internasional.

“Indonesia ini berpenduduk besar, dan sudah menjadi target pasar internasional. Karena itu, kita harus berbuat melalui kebangkitan industri. Kalau tidak, maka Indonesia akan dibanjiri oleh produk-produk asing,” kata Ketua Dewan Pakar Pimpinan Pusat Ikatan Alumni (PP-IKA) Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) itu dalam diskusi soal industri bersama Anas (Sekjen PP IKA ITS), Bambang Haryo, Lukman Mahfoedz, dan Achmad Sigit anggota IKA-ITS di Gedung DPR RI Jakarta, Jumat (16/9/2016).

Beberapa waktu lalu kepada Joko Widodo Presiden RI ada yang minta masuk TPP (Trans Pasifik Patnership) di Amerika Serikat, tapi kata Satya, pihaknya melarang karena Indonesia belum siap. Mengapa?

“Kalau belum siap, maka Indonesia akan menjadi korban dari TPP itu sendiri. Untuk itu, Indonesia harus bangkit melalui industry yang kreatif dan inovatif,” ujar politisi Golkar itu.

Menurut Satya, Philipina, Vietnam, dan Thailand kini sudah belajar berbahasa Indonesia, mengingat Indonesia sebagai tempat strategis untuk pasar industri mereka, juga dunia. Makanya dia meminta Indonesia tidak alergi dengan PMN (Pernyertaan Modal Nasional) untuk BUMN industri, karena industri memberikan konstribusi besar terhadap negara.

Termasuk dalam pengelolaan Migas, dengan industri dan infrastruktur Migas yang terbatas, maka pemerintah harus konsisten dengan pembangunan industri ini.

“DPR hanya minta pemerintah konsisten,” kata dia.

Sementara menurut M. Taufik, negara maju itu didukung oleh industri, pertanian, perdagangan, dan lain-lain. Tapi, pasca tahun 2001 industri Indonesia menurun sampai 21 %. Itu artinya tiap tahun mengalami penurunan 0,5% dari sebelumnya 30 %. Dengan demikian daya saing Indonesia juga menurun.

Karena itu kata Taufik, harus terus didorong pertumbuhan industri khususnya pangan, farmasi dan alat-alat kesehatan, tekstil, dan transportasi.

“Kalau ini jalan, maka Nawacita Jokowi dan tujuan industri itu sendiri akan berhasil,” ujar dia.

Lukman Mahfoedz anggota IKA-ITS lainnya menegaskan optimismenya jika pada 2020 Indonesia akan mencapai 30 % industri nasional dan itu akan memberikan konstribusi besar pada perekonomian negara. Tapi, faktanya mengkhawatirkan, meski perdagangan Indonesia? China mencapai 45 miliar dollar AS, tapi mengalami deficit 14 miliar dollar AS.

Oleh sebab itu kata Mahfoedz, harus ada perubahan yang terstruktur, terarah, dan terukur, dengan modal dasar sumber daya manusia (SDM), teknologi, inovasi, pembinaan pemeirntah untuk memasarkan produknya. Sehingga, mahalnya harga gas tidak dijadikan kambing hitam dalam persaingan internasional.

“Menurunnya industri kita ini karena tidak ada keperpihakan kepada rakyat Indonesia. Apalagi dengan program listrik 35 GW yang sampai tahun 2025 Indonesia akan menjadi tujuan pasar dunia, karena memang tak ada pasar yang sebesar Indonesia. Maka aturan-aturan harus diimbangi dengan system pemasaran (market) yang handal. Kalau tidak, maka nasibnya akan seperti 200-an industri di Surabaya, yang kini tutup semua,” kata dia.(faz/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Kamis, 7 Juli 2022
27o
Kurs