Senin, 28 September 2020

Tujuh Jam Bertemu, 128 Pengusaha Jatim dan NTB Telurkan Transaksi Rp603 Miliar

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur dan Siti Rohmi Djalillah Wakil Gubernur NTB di Hotel Lombok Raya, Mataram, NTB, Selasa (29/10/2019). Foto: Istimewa

Sejumlah pengusaha Jawa Timur dan sejumlah pengusaha asal Nusa Tenggara Barat melakukan pertemuan selama tujuh jam di Hotel Lombok Raya, Mataram, NTB, Selasa (29/10/2019).

Totalnya ada 128 pengusaha dua daerah yang bertemu dalam kegiatan misi dagang Pemprov Jatim di NTB itu, yang turut dihadiri Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur dan perwakilan Pemprov NTB.

Dalam waktu tujuh jam itu juga, transaksi antarpengusaha yang dihasilkan mencapai Rp603 miliar. Khofifah mengatakan, ini bukti bahwa potensi perdagangan kedua provinsi begitu kuat.

“Dalam misi dagang kali ini omzetnya mencapai Rp603 miliar lebih, bandingkan dengan 2017 lalu yang cuma Rp4 milliar. Transaksi sebesar itu hanya dalam waktu tujuh jam, ini luar biasa,” kata Khofifah.

Khofifah mengatakan, misi dagang itu adalah upaya pemerintah mempertemukan pelaku usaha untuk saling bertemu dan berkenalan serta menyebarluaskan potensi produk perindustrian, perdagangan, potensi perikanan, agribisnis, dan peluang investasi.

Merujuk data struktur perdagangan Jawa Timur, net ekspor perdagangan antarwilayah Jawa Timur lebih besar dibandingkan net ekspor perdagangan luar negeri. Sampai semester pertama 2019, net ekspor antarwilayah surplus Rp44,98 triliun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi pasar dalam negeri bagi Jawa Timur lebih besar daripada dengan luar negeri. Terbukti dengan realisasi investasi Jawa Timur di semester pertama 2019 yang mencapai Rp32,154 triliun.

UMKM mendominasi pencapaian itu dan menjadi sumber utama pendorong pembangunan ekonomi Jawa Timur di tengah perekonomian global yang dinamis.

Karena itulah, Pemprov Jatim tidak hanya membuka misi dagang dalam kunjungan ke NTB, tetapi juga membawa misi membangun sisterhood province melalui kerja sama dagang antardaerah.

Sebagai bentuk implementasi sisterhood, kedua kepala daerah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Kerja Sama Pembangunan Daerah dalam rangka Pengelolaan Potensi dan Sumber Daya.


Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Kerja Sama Pembangunan Daerah dalam rangka Pengelolaan Potensi dan Sumber Daya. Foto: Istimewa

“Ini bisa menjadi new partnership Jatim dengan NTB. Untuk Jatim, kami akan siapkan karpet merah dan karpet hijau. Seringkali terkait investasi kita terlampau outward looking. Saya ingin mengajak kita melihat secara inward looking. Karena perdagangan dalam negeri Jawa Timur sangat signifikan,” kata Khofifah.

Dalam kunjungan itu, Khofifah menawarkan kerja sama jagung dan perluasan penggemukan sapi untuk swasembada daging dan protein hewani. Khofifah pun menawarkan tenaga inseminator dan tenaga pemeriksa kebuntingan dari Jatim untuk memberikan pelatihan.

Balai Besar Inseminasi Buatan di Jatim juga akan memberikan pelatihan untuk peternak dari NTB. Sebab, menurut Khofifah, pada dasarnya NTB memiliki bibit sapi yang bagus dan potensial.

Tidak ketinggalan, Khofifah juga menawarkan kerja sama dengan NTB berkaitan kerangka perhiasan mutiara. Jatim, klaim Khofifah, punya industri perhiasan terbesar di Indonesia.

“Masih banyak kerangka dari perhiasan yang berbasis mutiara di NTB masih diimpor, terutama untuk liontin, gelang dan cincin,” imbuhnya. “Jadi harus ada pertemuan yang lebih fokus antara pelaku usaha perhiasan berbasis mutiara di NTB untuk bussiness matching dengan perusahaan-perusahaan perhiasan di Jatim.”

Industri perhiasan Indonesia dari Jawa Timur berkontribusi 49,5 persen terhadap industri perhiasan nasional. Temu kenal industri mutiara di NTB dengan pelaku-pelaku industri perhiasan di Jatim, apakah berbasis emas, silver, dan sebagainya, menurut Khofifah penting.

“Memang seharusnya lebih sering pertemuan-pertemuan misi dagang seperti ini,” jelasnya.

Sementara itu, Siti Rohmi Djalillah Wakil Gubernur NTB berharap akan ada hal-hal produktif hasil kerja sama NTB dan Jatim. Kata dia, NTB hidupnya sebagian besar dari pertanian, perkebunan, perdagangan, dan pariwisata.

“Kami mendorong desa wisata, perkembangan pariwisata sejalan dengan pertumbuhan ekonomi khususnya masyarakat desa. Nantinya, Kerja sama ini tidak hanya berhenti pada pertanian, peternakan, dan perdagangan,” ujarnya.(den/tin/ipg)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Meinara Iman Dwihartanto

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Senin, 28 September 2020
35o
Kurs