Minggu, 28 November 2021

13 Persen Penggangguran Bekerja Usai Ikuti Pelatihan Kartu Prakerja

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Ilustrasi. Sejumlah calon peserta Kartu Prakerja mendaftar secara daring di LTSA-UPT P2TK Surabaya, Senin (13/4/2020). Foto: Antara

Manajemen Pelaksana (PMO) Program Kartu Prakerja mengungkapkan sebanyak 13 persen peserta yang sebelumnya pengangguran, menjadi memiliki pekerjaan setelah mengikuti pelatihan berdasarkan hasil survei evaluasi I periode 5 Agustus hingga 31 Oktober 2020.

“Sebanyak 13 persen dari mereka yang semua pada Februari tidak bekerja, sekarang mereka menjadi bekerja,” kata Denni Purbasari Direktur Eksekutif PMO Program Kartu Prakerja dalam diskusi daring peran Kartu Prakerja di Jakarta, Selasa (3/11/2020).

Ia menjelaskan survei evaluasi I itu direspons oleh 2.423.865 penerima Kartu Prakerja yang per Februari 2020, sebanyak 41 persen di antaranya atau 993.784 orang mengaku tidak bekerja sebelum mengikuti program.

Setelah disurvei, lanjut dia, 13 persen dari 41 persen pengangguran itu atau sekitar 129.191 peserta kini memiliki pekerjaan.

Namun, Denni tidak memberikan detail jenis pekerjaan yang kini digeluti para peserta eks pengangguran itu.

Sedangkan, lanjut dia, sebanyak 59 persen dari peserta survei evaluasi I atau sekitar 1.430.080 orang, sebanyak 42 persen di antaranya tetap bekerja.

Survei juga menyebutkan tujuh kategori pelatihan yang paling banyak diminati yakni gaya hidup (membuat masker, tata rias), manajemen pengelolaan UMKM, dan penjualan pemasaran terkait pemasaran digital dan bisnis daring.

Kemudian pelatihan terkait keuangan, makanan dan minuman, bahasa asing dan teknologi informasi.

Hasil survei I lainnya menunjukkan pemanfatan insentif paling banyak digunakan untuk kebutuhan pokok dan modal usaha.

Rinciannya, lanjut Denni, sebanyak 96 persen untuk konsumsi bahan pangan, 75 persen untuk listrik, 63 persen untuk modal usaha, 65 persen untuk bensin dan 63 persen untuk pulsa/kuota internet.

Selanjutnya, survei evaluasi II yang diikuti 293.255 penerima program yang dilakukan 4-31 Oktober 2020 menyebutkan Kartu Prakerja mengakselerasi inklusi keuangan.

Dia menyebutkan berdasarkan hasil survei, sebelum mengikuti program Kartu Prakerja sebanyak 12 persen tidak memiliki rekening bank dan akun dompet elektronik.

“Sekarang mereka sudah punya, 76 persen memiliki e-wallet baik OVO, Gopay dan LinkAja dan 27 persen memilki rekening bank,” katanya, dilansir Antara.

Hasil survei evalausi II juga mengungkapkan sebanyak 25 persen peserta survei II mengaku program Kartu Prakerja mendorong kewirausahaan, dan 16 persen wirausaha sendiri. (ant/dfn/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Minggu, 28 November 2021
25o
Kurs