Minggu, 28 November 2021

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III di Jatim Terkontraksi Lebih Tinggi dari Nasional

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Dadang Hardiwan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur. Foto: Istimewa

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Jatim triwulan III 2020 terkontraksi lebih tinggi dibandingkan kontraksi ekonomi secara nasional.

Dibandingkan triwulan III tahun lalu (YoY) kontraksi pertumbuhan ekonomi yang dialami Jatim mencapai 3,75 persen. Kontraksi ekonomi nasional sebesar 3,49 persen.

Meski begitu, kalau dibandingkan triwulan sebelumnya, triwulan II 2020 (Q to Q), ekonomi Jatim mengalami pertumbuhan mencapai 5,89 persen.

Dadang Hardiwan Kepala BPS Jatim bilang, membaiknya pertumbuhan ekonomi secara Q to Q didukung kinerja Lapangan Usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 30,68 persen.

Sektor Transportasi dan Pergudangan Jatim mengalami pertumbuhan sebesar 21,34 persen. Demikian halnya sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh 9,71 persen.

Selanjutnya sektor usaha konstruksi di Jatim juga tercatat mengalami pertumbuhan positif mencapai 7,92 persen. Juga Industri Pengolahan yang tumbuh 7,32 persen

“Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor tumbuh 7,17 persen; Jasa Perusahaan tumbuh 5,24 persen; lalu Jasa Pendidikan  tumbuh 4,66 persen,” katanya, Kamis (5/11/2020).

Secara keseluruhan selama 2020, Ekonomi Jawa Timur sampai triwulan III-2020 (C to C) terkontraksi 2,29 persen. Sejumlah sektor mengalami pertumbuhan positif.

Di antaranya lapangan usaha informasi dan komunikasi sebesar 7,88 persen; jasa kesehatan dan kegiatan sosial 8,87 persen; real estat 4,66 persen; serta pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang 4,56 persen.

“Sedangkan kontraksi tertinggi pada Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 15,31 persen serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 13,08 persen,” kata Dadang.

Secara keseluruhan, catatan ekonomi kinerja pertanian, perkebunan, dan peternakan lebih baik dari sebelumnya. Panen tebu dan momen Idul Adha mendorong perbaikan ekonomi triwulan III.

Tidak hanya itu, mulai beroperasinya industri pengolahan mendorong peningkatan produksi di Jatim. “Masa giling tebu mendorong industri makanan. Seiring peningkatan bahan baku atau furniture,” kata dia.

Peningkatan penjualan listrik juga terjadi pada triwulan III tahun ini. Longgarnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) membuat kegiatan industri pengolahan mulai menggeliat, meningkatkan penjualan listrik.

Sedangkan pelonggaran PSBB meningkatkan semua moda transportasi, restoran, dan akomodasi yang mulai beroperasi secara normal kembali dengan sejumlah promo yang diberikan kepada masyarakat.

“Penjualan mobil dan motor meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Ini sejalan dengan peningkatan penjualan perdagangan besar eceran. Terutama penjualan daring (marketplace)” terangnya.

Sementara, mengenai pertumbuhan kredit Q to Q di Jatim, kata Dadang, disebabkan adanya penempatan dana ke bank milik pemerintah dan swasta terkait program pemulihan ekonomi nasional (PEN). (den/ang)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Minggu, 28 November 2021
27o
Kurs