Rabu, 25 November 2020
OPOP Jawa Timur

Pesantren Raudhatul Islam Jember Memilih Kuliner Mie UKM Demi Ikuti Arus

Laporan oleh Achmad Zainal Alim
Bagikan
Menikmati Mie Ayam UKM di ponpes Raudhatul Islam Jember. Foto: Dok. Suarasurabaya.net

Mungkin banyak yang sepakat, dunia kuliner memang tidak ada matinya. Tiap tahun, pasti saja bermunculan bisnis kuliner baru, dan berkembang dengan pesat. Apalagi kebiasaan orang Indonesia yang konsumtif dan suka jajan. Bisnis makanan, menjadi bisnis yang paling tepat dan cepat mendatangkan keuntungan.

Membuka usaha gerai mie ayam, menjadi pilihan Pesantren Raudhatul Islam Jember. KH. Shiratal Mustakim Pengasuh pondok pesantren Raudhatul Islam mengatakan, bisnis yang kurang lebih sudah berjalan 8 tahun itu diberi nama Mie Ayam UKM.

“Saya bersama pengurus berpikir untuk mengembangkan usaha, maka mendirikan usaha kuliner berupa Mie. Saat ini sedang ramai-ramainya disukai banyak orang. Menurut saya, kita harus mengikuti arus, jangan melawannya,” tegasnya.

Kyai Shiratal memberikan ibarat, misalnya ingin jadi kontraktor malah rugi ngalor-ngidul. “Alangkah baiknya bila usaha-usaha kecil ini saja diurus dulu. Bukannya bermula dari yang kecil, akan menjadi besar. Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit,” ungkapnya.

Tujuannya membuka usaha ini sebagai sarana mendulang pengalaman serta bekal bagi para santri, terutama nanti ketika sudah lulus dari pesantren. Demikian halnya kehadiran program OPOP Jatim diharapkan mampu mendukung percepatannya.

KH. Shiratal Mustakim pengasuh pondok pesantren Raudhatul Islam Jember. Foto: Dok. Suarasurabaya.net

“Kami di sini memang menciptakan santri-santri yang ketika pulang kelak, tidak hanya pinter mangaji, tetapi juga cukup bekal untuk pinter mencari uang demi hidup. Ngaji kitab-kitab bisa, dan ngaji mencari uang juga bisa. Nanti biar kehidupan berjuang demi agama tercapai,” tuturnya.

Mie Ayam UKM ini, semuanya diproduksi sendiri. Seperti dikisahkan Indah salah santri di pesantren Raudhatul Islam Jember . “Dalam sehari kami membuat 10-15 kilogram mie, untuk kebutuhan sendiri dan dijual,” urainya.

Indah menambahkan, “Untuk kebutuhan sendiri, kami juga jual mie mentah. Melayani juga untuk mie kering. Pembeli dominan berasal dari Jember dan sekitarnya. Pemasaran melalui online juga. Selama pandemi lebih banyak yang melalui online. Jarang yang makan di tempat, karena dilarang oleh Satgas Covid-19,” tukasnya.

Keunggulan dari Mie Ayam UKM buatan Ponpes Raudhatul Islam Jember ini, tidak ada pengawet sama sekali. “Produk kami harus fresh, tidak pakai pengawet,” tegasnya.

Indah dan beberapa santri lain yang mengelola Mie Ayam UKM berharap, produksi mereka bisa lebih inovatif. Seperti yang sudah dilakukan sekarang Mie Ayam kering, harapannya supaya pemasaran bisa diperluas.(lim)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Truk Trailer Mogok di Flyover Trosobo

Proses Pencarian Korban Tenggelam di Taman Sidoarjo

Kecelakaan Mobil di Tol Porong arah Sidoarjo

Truk Terguling, Lalu lintas Macet

Surabaya
Rabu, 25 November 2020
34o
Kurs