Senin, 4 Juli 2022
OPOP Jawa Timur

Pesantren Ummul Quro Yakin, Santri Tidak Lagi Pinggiran Harus Berjiwa Entrepreneur

Laporan oleh Achmad Zainal Alim
Bagikan
Produk Bawang Dayak dalam kemasan siap dipasarkan, dari Pesantren Ummul Quro Probolinggo. Foto: Istimewa

Kesadaran akan kekayaan alam Indonesia dan kandungan di dalamnya tidak semua orang memilikinya. Sungguh anugerah yang tidak ternilai harganya, bila kita mampu memahaminya. Sebut saja Faruq Zaini, yang akrab disapa Gus Faruq, menantu pendiri Pesantren Ummul Quro, Probolinggo. Beliau sangat paham bagaimana memanfaatkan potensi alam di lingkungannya.

Gus Faruq sangat paham bagaimana memanfaatkan lahan-lahan kosong, yang selama ini terbengkalai. Bersama pesantrennya membudidayakan Bawang Dayak. Hingga kini menjadi komoditi andalan di pondok pesantrennya.

“Semula, saya mencari apa yang bisa dijual, apa yang layak dijual. Sembari cari-cari di internet, saya menemukan tumbuhan langka. Dari sana Saya coba mencari lebih dalam. Hal lain, dilandasi alasan ekonomi di sini. Sekira bisa membantu para santri, sekaligus yang bisa dikembangkan untuk pesantren. Artinya bisa memberi manfaat lebih luas,” urainya.

Gus Faruq dan beberapa santri serta masyrakat sekitar pesantren, mulai memanfaatkan lahan kosong itu. Menanami beberapa jenis tanaman, satu di antaranya Bawang Dayak. Bawang Dayak, mungkin sebagian orang menganggap remeh atau malah tidak tahu keunggulan tanaman yang belakangan banyak dimanfaatkan sebagai tanaman herbal ini.

Menurut Gus Faruq, kajiannya terhadap tanaman yang banyak ditanam di pulau Kalimantan ini sudah banyak. “Bicara khasiatnya banyak, di antaranya untuk mengobati kolesterol, diabet, bahkan ada pelanggan di Gorontalo yang mempunyai perkumpulan penderita kanker. Semula Kami tidak tahu, kenapa beliau selalu membeli dalam jumlah yang banyak. Setelah ditanya keperluannya itu, ternyata untuk membantu teman-temannya di sana untuk pengobatan kanker,” urainya.

Dari hasil bisnis Bawang Dayak, kata Gus Faruq, sebagian hasilnya telah digunakan untuk membangun gedung baru di pesantren, karena pesantren lama sudah sangat penuh dihuni santri.

“Alhamdulillaah sekarang pesantren Ummul Quro mempunyai anak baru, bagian terbaru di sini, karena selama ini santrinya sudah terlalu banyak, akhirnya Kami bangun pondok baru, sebagian santri kami pindahkan ke sana. Di mana pembangunannya diambilkan dari hasil penjualan Bawang Dayak,” jelasnya.

Produk bawang Dayak juga bisa didapatkan melalui market place, komoditi produk koperasi Pesantren yang berlokasi di Desa Kropak, Kecamatan Bantaran, Probolinggo ini. Konon, tidak hanya dikenal di luar pulau, tapi juga sudah dikenal konsumen dari mancanegara. Kini tidak main-main, melalui usaha Bawang Dayak yang dikelola bersama para santrinya, Gus Faruq punya mimpi besar ke depan.

“Karena selama ini pesantren dianggap pinggiran, Saya punya mimpi besar; Santri itu harus punya jiwa entrepreneur,” tegasnya.

Gus Maimun, putra pendiri Ponpes Ummul Quro. Foto Dok. Suarasurabaya.net

Menemani Gus Faruq, Gus Maimun Arif Ketua Koperasi sekaligus putra pendiri Pondok Pesantren Ummul Quro, mengaku kopontren yang dikelolanya sudah berbadan hukum sejak 1998. Diawali dengan kerjasama bersama santri, alumni dan masyarakat setempat. Serta berawal dari upaya untuk memenuhi keperluan santri sendiri, sekarang berkembang memproduksi berbagai macam kerajinan tangan, keripik, dan yang paling fenomenal usaha Bawang Dayak.

“Khusus untuk usaha Bawang Dayak di sini ada dua jenis, yang sudah dirajang, dan yang sudah dihaluskan,” tutur Gus Maimun.

Para santri senang dan menikmati iklim berusaha yang dikembangkan di pondok pesantren, terlebih dengan dukungan OPOP Jatim. Ahmad Husaini salah santri Ummul Qura yang merasa bangga belajar di sana. Dia tidak hanya belajar ngaji, tapi juga dilatih menjadi santri yang tangguh.

“Insya’allah Saya siap mengamalkan ilmu ngaji, tetapi juga memiliki mental kerja keras, kreatif, inovatif, serta ber-akhlakul karimah,” kata Husaini semangat. (lim)

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 4 Juli 2022
28o
Kurs