Kamis, 25 Februari 2021

Strategi Gerai Gawai di Tengah Lesunya Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Pengunjung gerai gawai mencoba fitur yang ada di gadget. Foto: Istimewa

Kerja dari rumah (work from home/WFH) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) meningkatkan kebutuhan piranti teknologi. Sejumlah gerai penyedia gawai justru mencatat pertumbuhan positif penjualan di tengah lesunya ekonomi.

Jhonny Thio Doran CEO Doran Gadget gerai penyedia gawai di WTC Surabaya justru tancap gas buka gerai kedua di Tunjungan Plaza Surabaya, Jumat (4/12/2020) kemarin. Keputusannya bukan tanpa alasan.

“Justru pada saat pandemi, kita harus tekan gas. Karena banyak perusahaan lain sedang menekan rem, jadi kami bisa menyalip. Yang penting dengan persiapan yang matang,” katanya di sela soft opening gerai baru.

Jhonny mengakui, kondisi pasar gawai dan perangkat teknologi lain secara global memang lesu selama pandemi. Tapi tidak demikian yang dialami tokonya. Dia mengeklaim penjualan justru naik 40 persen.

“Ada peningkatan penjualan sekitar 40 persen. Sejak bulan April, Mei kita ada mengalami peningkatan sampai hari ini dan mencapai titik yang belum pernah kami capai. Jadi kita all time high,” katanya.

Melihat kondisi itu, dia optimistis memproyeksikan capaian penjualan sampai akhir tahun 50 persen lebih tinggi dari tahun lalu. Salah satu strateginya dengan membuka gerai baru di Tunjungan Plaza.

Adapun jenis produk yang mendominasi peningkatan penjualan di tokonya antara lain headphone, earphone, webcam, power bank, charger, dan alat penunjang gaya hidup sehat seperti jam tangan digital dan sebagainya.

“Karena sekarang di zaman daring banyak orang menggunakan untuk kelas online dan meeting. Juga sekolah daring. WFH sangat mempengaruhi dan itu positif bagi penjualan kami,” ujarnya.

Adapun sejumlah brand yang berkontribusi besar sepanjang 2020 untuk penjualan tokonya adalah aksesoris gawai merek Jete, Dji, juga alat penunjang gaya hidup sehat merk Garmin.

Tidak hanya membuka gerai baru, Jhonny bahkan sudah memproyeksikan perluasan jangkauan pasar mulai tahun depan. Dia berencana membuka gerai di Bali, Semarang, dan Sulawesi pada 2021.

“Karena kami melihat perubahan daya beli customer. Itu yang kami tembak. Di masa pandemi ini kami belajar mati-matian, dan kebetulan tidak sampai memecat karyawan. Sama sekali,” tegasnya.

Dalam hal penjualan di tengah pandemi, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERRA), perusahaan yang mengoperasikan gerai Erafone juga mengalami peningkatan penjualan. Namun secara daring.

Yan Stephanus Head of Investor Realtions & Commercial Planning Erajaya Swasembada bilang, penjualan daring Erafone meningkat tujuh kali lipat selama pandemi. Namun, kontribusinya tidak besar. Hanya 10 persen.

Berdasarkan laporan keuangan ERAA pada semster pertama 2020 dikutip bisnis.com, emiten itu beruntung mengalami pertumbuhan laba 3,8 persen secara tahunan menjadi Rp113,4 miliar.

Namun, secara umum gerai Erafone mencatatkan penurunan penjualan sebesar 6,26 persen menjadi sebesar Rp14,46 triliun dibandingkan pencapain pada semester pertama 2019 sebesar Rp15,42 triliun.

Pandemi Covid-19, menurut Yan, sangat berdampak pada bisnis perseroan. Ada sekitar 300 gerai Erafone di Indonesia yang tutup seiring peningkatan penetrasi penjualan secara daring.

Produk gawai atau handset berkontribusi 75 persen. Selanjutnya, Erajaya akan memacu lini bisnis lain seperti Internet of Thing (IoT) karena bisnis di luar handset punya margin keuntungan lebih besar, antara 15-20 persen.

Okky Tri Hutomo Ketua Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Aptiknas) Jatim menjelaskan, turunnya daya beli gawai saat pandemi Covid-19 karena perubahan alasan masyarakat.

Kalau sebelumnya mengikuti tren jadi alasan masyarakat beli gawai, kini alasan rusak atau hilang jadi yang dominan. Ini yang menurutnya bikin permintaan produk gawai diperkirakan landai sampai akhir tahun.

Sampai kuartal ketiga 2020, dia lihat belum ada kenaikan permintaan. Yang terjadi penurunan penjualan dari tahun lalu rata-rata 30-40 persen. Padahal normalnya, penjualan rata-rata tumbuh 15 persen.

Sejumlah pelaku bisnis TI, kata Okky, dikutip Antara Oktober lalu, berupaya memperluas pasar di jalur pemasaran daring. Meski tidak berdampak signifikan karena pembeli masih cenderung datang dan pegang barang.

Okky mengakui bahwa sejumlah pelaku usaha masih optimistis adanya peningkatan penjualan, sejalan dengan tingginya kebutuhan produk TI untuk penunjang kegiatan pendidikan.(den/dfn)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Tabrak Warung di Sidoarjo

Truk Terguling di Prigen

Terguling dan Muatannya Tumpah

Mobil Masuk Sungai di Jemursari

Surabaya
Kamis, 25 Februari 2021
28o
Kurs