Sabtu, 4 Desember 2021

Ekonomi Indonesia Membaik tetapi Sangat Rapuh

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
ilustrasi-pexels-alesia-kozik Ilustrasi. Foto: Pexels

Dradjad Hari Wibowo Ekonom Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal II/2021 tercatat 7,07 persen year on year (yoy). Angka ini jauh melebihi perkiraan kebanyakan ekonom dan pelaku keuangan, yaitu sekitar 5 persen.

“Secara obyektif, saya melihat perekonomian memang membaik selama kuartal II/2021. Konsumsi dan ekspor tumbuh relatif tinggi. Namun, saya juga mengingatkan bahwa pertumbuhan itu masih sangat rapuh,” ujar Dradjad dalam keterangannya, Jumat (6/8/2021).

Alasan-alasan sangat rapuh itu, kata Dradjad, pertama, angka 7,07 persen itu diperoleh dari basis Produk Domestik Bruto (PDB) yang anjlok drastis tahun lalu.

“Kita tahu, ekonomi tumbuh minus 5,32 persen pada kuartal II/2020. Ini memberikan basis perhitungan PDB yang rendah,” jelasnya.

“Untuk mudahnya saya ibaratkan kita punya 100 medali pada tahun 2019. Tahun 2020, medali kita anjlok menjadi 100-5,32 = 94,68. Nah pada tahun 2021 jumlah medali kita menjadi 101.37,” imbuhnya.

Kata dia, angka 101,37 ini mencerminkan kenaikan 7,07 persen dibandingkan kondisi tahun 2020. Tapi jika dibandingkan angka dasar 100, kenaikannya hanya 1,37 persen.

Alasan yang kedua, pertumbuhan 7,07 persen itu antara lain karena pemerintah melonggarkan pergerakan orang pada kuartal II/2021. Efeknya, konsumsi tumbuh 5,93 persen, lebih tinggi dari “biasanya”. Beberapa tahun terakhir, konsumsi “biasanya” tumbuh sedikit di atas atau di bawah 5 persen.

Masalahnya, menurut Dradjad, pelonggaran itu terbukti membuat kasus Covid-19 di Indonesia meledak dengan tingkat kematian tinggi. Kondisi ini memaksa pemerintah menerapkan PPKM darurat dan PPKM level 4 di berbagai provinsi selama Juli hingga awal Agustus.

“Hampir separuh dari kuartal III/2021 kita lalui dalam PPKM. Jelas, pertumbuhan konsumsi akan anjlok, meski mungkin tidak akan negatif karena kita berangkat dari basis yang rendah,” kata dia.

Efek lainnya adalah Indonesia ditempatkan oleh Bloomberg sebagai negara yang paling rendah skor ketahanan pandeminya.

“Kita berada pada urutan 53 dari 53 negara yang masuk dalam Bloomberg Resilience Score (BRS). BRS yang buruk ini bisa mengganggu kepercayaan investor dan konsumen terhadap Indonesia pada kuartal III/2021 dan ke depannya,” jelas Dradjad.

Alasan ketiga, lanjut Dradjad, selisih antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan konsumsi kali ini cukup besar. Kondisi ini di luar kebiasaan. Dradjad mengaku masih harus melihat tren ke depan uuntuk mengetahui apakah hal ini hanya lonjakan sesaat atau awal perubahan yang lebih mendasar.

Jika yang terjadi adalah lonjakan sesaat dari komponen pengeluaran yang lain, ini menandakan lebih tingginya tingkat kerapuhan dari pertumbuhan ekonomi. Karena, konsumsi sebagai “saka guru” cenderung menurun pada kuartal III/2021.(faz/dfn/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Sabtu, 4 Desember 2021
32o
Kurs