Jumat, 3 Desember 2021

Gelar Webinar SDGs, Ubaya Kupas Keberlangsungan Bisnis di Masa Pandemi Covid-19

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Satu diantara materi webinar Ubaya yang digelar secara daring. Foto: humas Ubaya

Menelisik dampak pandemi Covid-19 yang luas dan pengaruh PPKM Darurat di masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Ubaya menggelar webinar Seri Edukasi Masyarakat 2021.

Tajuk webinar itu adalah Peran Perguruan Tinggi dalam Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Masa Normal Baru dengan tema “Bagaimana agar Bisnis Bisa Berlanjut di Masa Pandemi Covid-19?.”

Kegiatan ini adalah seri ke-47 dari 53 rangkaian kegiatan webinar Seri Edukasi Masyarakat 2021 yang direncanakan. Tujuannya sebagai wujud implementasi program Ubaya for Indonesia melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Webinar Seri Edukasi Masyarakat 2021 ini sudah digelar sejak April 2021 hingga Juli 2021 ini dengan menghadirkan beragam materi sesuai kebutuhan masyarakat. Mulai dari topik kesehatan, desa wisata, keuangan, UMKM, hukum, farmasi, biokteknologi, psikologi, teknologi, dan masih banyak lagi.

“Melalui kegiatan webinar Seri Edukasi Masyarakat ini diharapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat meningkat dan membantu mereka memecahkan permasalahan yang dihadapi. Kami juga berharap mereka tetap memiliki sikap optimistis. Karena kami yakin setiap keadaan selalu ada peluang, termasuk saat pandemi,” kata Utomo Manajer Pengabdian Masyarakat LPPM Ubaya, Jumat (16/7/2021).

Pada seri kali ini LPPM Ubaya menghadirkan dua narasumber Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Ubaya. Yakni Bambang Budiarto dan Johny Rusdiyanto.

Bambang Budiarto membahas topik mengenai Benteng Tangguh di Masa Pandemi Ekonomi. Sedangkan Johny Rusdiyanto memaparkan materi HCM dan Keberlangsungan Bisnis di Masa Pandemi Covid-19.

Bambang Budiarto, yang juga Ketua Bidang Publikasi ISEI Surabaya menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 saat ini menyebabkan pandemi ekonomi di Indonesia.

Perekonomian Indonesia pada 2020 tumbuh negatif. Jika pada 2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,17 persen, dan tahun 2019 sebesar 5,02 persen, maka pada 2020 kuartal pertama hanya 2,79 persen dan kuartal keempat minus 2,19 persen.

“Ada sektor yang bertahan, misalkan bidang yang terkait penggunaan dana pemerintah, baik APBN maupun APBD. Bidang digital payment, kesehatan dan kegiatan sosial serta informasi dan komunikasi juga bertumbuh. Tetapi banyak yang menurun, seperti industri manufaktur, pariwisata, hotel dan restoran,” papar Bambang Budiyanto.

Beberapa sektor, kata Bambang tidak sekedar terkontraksi mengalami penurunan tetapi sudah terjun bebas. Itu menggambarkan betapa berat dampak Pandemi Covid-19 ini.

Namun, ada beberapa sektor bidang lain yang juga mampu bertahan dan menjadi benteng tangguh yaitu UMKM serta Agroindustri.

UMKM yang dipandang sebelah mata bukannya tidak menghadapi tantangan, mereka berupaya melakukan penyesuaian selama pandemi.

Sedangkan Agroindustri memiliki potensi yang cukup besar. Sebagai contoh, di sektor pertanian, sebagai penyedia pangan, Indonesia masih bisa bertahan dibandingkan Korea Utara.

Ada satu lagi bidang yang mampu bertahan dan dikreasi anak muda tentang ketenagakerjaan yaitu digital nomad. Digital nomad artinya pekerjaan yang bisa dilakukan generasi milenial di mana saja dengan bantuan jaringan internet.

“Dua sektor UMKM dan Agroindustri tidak sekedar mampu bertahan namun juga menjadi solusi alternatif menghadapi serbuan tambahan pengangguran yang sudah tembus 10 juta jiwa. Jika dulu yang terjadi adalah urbanisasi maka sekarang yang terjadi sebaliknya, ruralisasi. Dua sektor ini masih bertahan. Masyarakat perlu berinovasi menghadapi pandemi. Namun bila penyekatan dan pembatasan mobilitas masih terus berkepanjangan maka pada titik tertentu nanti pun akan tumbang juga,” jelas Bambang Budiarto.

Johny Rusdiyanto menjelaskan tentang human capital management (HCM) dan peran sumber daya manusia (SDM) dalam menunjang keberlangsungan bisnis di masa pandemi Covid-19.

Berita keterpurukan pelaku bisnis, kata dia, hampir setiap hari muncul di media cetak, elektronik, dan media sosial.

Johny mengungkapkan bahwa kondisi saat ini memang memprihatinkan, tetapi Johny ingin mengajak masyarakat khususnya kepada peserta webinar untuk melihat secara jelas bahwa ada pelaku bisnis yang justru bahagia karena pandemi.

Johny mencontohkan sejumlah bisnis yang tetap survive dan memperoleh profit. Itu karena adanya peran SDM sebagai human capital. Human capital disini berarti manusia harus bisa menjadi aset bagi perusahaannya.

Menurutnya, sentra keberlangsungan hidup bisnis apapun terletak pada sumber SDM. Ciri-ciri SDM yang memiliki pengaruh kesuksesan pada sebuah bisnis yang berkelanjutan yaitu responsif, inovatif, adaptif, trust, value creation, network, dan SDM as human capital.

SDM sebagai human capital juga punya ciri-ciri yang lebih spesifik. Mereka punya kompetensi mencakup ability, skill, knowledge, dan attitude.

Selain itu, mereka mempunyai karakter moral dan kinerja yang baik. Ditambah lagi, memiliki kesehatan mental dan fisik yang bagus sekaligus mindset diri untuk terus berkembang jadi pribadi yang lebih baik.

“Fondasi pada dunia bisnis terletak pada manusianya. Bukan sekedar SDM biasa, tetapi SDM yang berkualitas sebagai human capital. Sebuah organisasi atau bisnis akan berkembang atau terpuruk karena mindset, design thinking dan karakter SDM,” katanya.(tok/dfn/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Jumat, 3 Desember 2021
26o
Kurs