Rabu, 17 Agustus 2022

Program Bayi Tabung di Surabaya Sempat Turun karena Pandemi, Sekarang Ekspansi

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Dokter Ivan Rizal Sini, Presiden Direktur Morula IVF Indonesia di Surabaya, Minggu (28/11/2021). Foto: Denza suarasurabaya.net

Data Perhimpunan Fertilisasi In Vitro Indonesia (PERFITRI), total siklus program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF) di Tanah Air pada 2020 lalu lebih dari 8.300 siklus.

Data itu menurun dari 2019 yang mencapai hampir 12 ribu siklus diduga terdampak Covid-19. Meski demikian, siklus bayi tabung di Indonesia diklaim masih lebih besar dari Singapura atau Malaysia.

Pertumbuhan permintaan solusi fertilitas dengan metode bayi tabung atau IVF di Surabaya juga diklaim meningkat. Morula IVF, salah satu klinik fertilitas yang melayani solusi bayi tabung, menyatakan itu.

Dokter Ivan Rizal Sini Presiden Direktur Morula IVF Indonesia mengatakan, secara nasional dengan jumlah penduduk mencapai 273 juta orang, kasus infertilitas di Indonesia antara 11 persen-12 persen.

Dia mengeklaim, siklus program bayi tabung yang dikerjakan Grup Morula IVF Indonesia secara nasional sudah mendekati angka 6.000. Sedangkan di Surabaya, tercatat 800 siklus atau sekitar 10-15 persen.

Mengingat semakin tingginya permintaan solusi IVF di Surabaya, Morula IVF Indonesia melalui Morula IVF Surabaya melakukan ekspansi dengan berencana membuka klinik cabang baru selain di National Hospital.

“Melihat antusiasme tinggi pasien IVF di Surabaya, kami semakin yakin dan bersemangat menambah layanan. Pada 2022 nanti Morula IVF Surabaya akan membuka 3 klinik cabang baru,” ujarnya.

Dia sampaikan itu dalam konferensi pers di sela seminar awam “An event of Hope and Passionate Journey” sebagai rangkaian acara hari jadi ke-9 Morula IVF Surabaya, di salah satu hotel, Minggu (28/11/2021).

Secara umum, Morula IVF Indonesia mengeklaim, mereka menguasai 48 persen pasar industri IVF di Indonesia dengan telah melayani 100 ribu pasien domestik maupun mancanegara hingga 2021 ini.

Di Surabaya, dengan adanya ekspansi klinik baru, Morula IVF menargetkan peningkatan 15.000 layanan kunjungan pasien rawat jalan dan 5.000 siklus program bayi tabung yang ditangani hingga lima tahun ke depan.

“Jadi target peningkatan siklus program bayi tabungnya mencapai hampir enam kali lipat dari capaian yang sudah dilakukan sampai 2021, yang sudah sebanyak 800 siklus,” kata Ivan.

Tidak hanya rencana penambahan tiga klinik cabang baru, Morula IVF Surabaya pada Minggu ini juga telah menandatangani kerja sama dengan 30 klinik yang sudah ada di Jawa Timur.

“Saat ini Klinik Fertilitas Indonesia (KFI) yang didukung Morula IVF Indonesia sudah bekerja sama dengan 100 klinik di seluruh Indonesia sampai November kemarin. Di Jatim kami baru saja menandatangani kerja sama dengan 30 klinik baru,” ujarnya.

Sekadar informasi, Klinik Bayi Tabung Morula IVF Surabaya ini sebelumnya sempat viral di media sosial karena berhasil membantu pasangan Rifki-Aisyah Fiyanti pasutri asal Madura memperoleh keturunan.

Pasangan itu melahirkan anak kedua yang dinamai Khadijah Adzkiya (Kiya) dari embrio yang tersimpan selama enam tahun, atau selisih lima tahun setelah kelahiran Achmad Rifansyah (Evan) anak pertama mereka.

Tidak hanya itu, Morula IVF Surabaya juga telah membantu Su’udiyah (44 tahun) dan Somidi (51 tahun), pasutri asal Dusun Pakondang Daya, Sumenep mendapatkan keturunan setelah menanti selama 21 tahun.

Dokter Benediktus Arifin, Dokter Spesialis Obgyn Morula IVF Surabaya mengatakan, dengan teknologi bayi tabung yang ada di dalam negeri, termasuk teknologi yang dimiliki Morula IVF, layanan itu bisa didapat di dalam negeri.

“Memang sebelum Pandemi Covid-19 itu, cukup banyak yang berangkat ke luar negeri untuk mendapatkan solusi bayi tabung. Sejak pandemi masyarakat sadar, di Indonesia, teknologinya tidak kalah,” ujarnya.

Dia pun mengajak masyarakat di Jatim, terutama para pasangan suami istri produktif yang mengalami masalah infertilitas dan sudah menunggu bertahun-tahun memanfaatkan layanan yang ada di dalam negeri.

“Belum berbagai masalah yang muncul selama proses program ini kalau di luar negeri. Kalau di dalam negeri, program ini akan relatif lebih berhasil, karena pasangan suami-istri bisa lebih tenang menjalaninya,” ujarnya.(den/tin/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Rabu, 17 Agustus 2022
29o
Kurs