Senin, 30 Januari 2023

Banyak Lulusan SMK yang Disebut BPS Menganggur Jadi Freelancer dan Wirausahawan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi pekerja freelance. Foto: Pixabay

Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2022, sebanyak 8,40 juta orang di Indonesia telah menjadi pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Februari itu menyebut, sebanyak 10,38 persennya berasal dari lulusan SMK.

Menanggapi data tersebut, Ramliyanto Kepala Biro (Kabiro) Setdaprov Jatim pada Radio Suara Surabaya, Senin (19/9/2022) mengatakan, Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya lulusan SMK yang terdata dalam TPT tersebut.

“Pertama banyak lulusan SMK sangat pilih-pilih pada pekerjaan yang ada. Selanjutnya banyak lulusan SMK yang punya sertifikasi profesi cenderung lebih memilih menunggu pekerjaan yang tepat sesuai kompetensinya dan bidang yang digemarinya,” ujar Ramli dalam program Wawasan Suara Surabaya.

Selain itu, Mantan Sekretaris Dinas Pendidikan Jatim itu juga mengungkapkan bahwa lulusan SMK yang memilih menunggu pekerjaan tadi, sejatinya banyak melakukan aktivitas produktif sesuai kompetensinya. Dia mencontohkan, banyak lulusan SMK tersebut yang bekerja secara freelance atau tidak terikat kontrak , dengan mengambil project-project tertentu.

“Selain itu, banyak juga lulusan SMK yang berwirausaha karena semasa SMK dibentuk untuk jadi entrepreneur. Tapi sayangnya itu tidak masuk hitungan BPS sebagai bekerja, tapi pengangguran,” ujarnya.

Bahkan Ramli menyebut, jika saat ini Pemprov Jatim telah memfasilitasi sekitar dua ribu pekerja freelancer itu dengan program Milenial Job Center, karena banyak dari generasi tersebut yang  menjadikan pekerjaan by project-nya sebagai penghasilan utama ketimbang mencari pekerjaan tetap/kontrak.

“Tapi tetap, data dari BPS itu akan jadi evaluasi pemerintah, khususnya untuk penyesuaian jurusan sesuai kebutuhan dunia kerja yang ada saat ini,” jelasnya.

Senada dengan Ramli, Nurul Indah Wakil Ketua Bidang K3 dan Produktivitas Kerja Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jatim menyebut, jika berwirausaha bukan berarti tidak bekerja. Selain itu, lulusan SMK tidak harus bekerja di sektor Industri, tapi juga ke dunia entertainment (industri hiburan).

“Jadi definisi bekerja juga harus jelas. berwirausaha di rumah itu sebenarnya bukan berarti bisa disebut pengangguran, karena mereka juga punya pekerjaan sendiri. Itu juga bentuk inisiatif mereka untuk menciptakan lapangan kerja,” ujarnya pada Radio Suara Surabaya.

Namun, terkait data TPT dari BPS, Nurul indah menegaskan jika dunia industri dan pendidikan harus memiliki sinergitas atau kerja sama yang baik. Selama ini, apa yang diajarkan pada siswa di dunia pendidikan dengan apa yang dibutuhkan Indstri masih kurang nyambung. Dia menyebut jika lulusan SMK, termasuk golongan berkompeten karena secara khusus dipersiapkan untuk langsung bekerja setelah lulus sekolah.

“Itu permasalahan dari dulu. Sebenarnya ada beberapa SMK yang sudah berhasil memenuhi kebutuhan industri, tapi belum merata. Untuk itu evaluasi dan pemerataan harus dilakukan pada SMK-SMK lainnya,” jelasnya. (bil)

Berita Terkait