Kamis, 8 Desember 2022

Fed AS Naikkan Suku Bunga 75 Basis Poin Karena Inflasi yang Persisten

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Jerome Powell Ketua Dewan Federal Reserve (The Fed). Foto: Reuters

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada Rabu (27/7/2022) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin, yang kedua berturut-turut dengan jumlah yang sama. Langkah itu diambil karena peningkatan inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda pelonggaran yang jelas.

“Inflasi tetap tinggi, mencerminkan ketidakseimbangan penawaran dan permintaan terkait pandemi, harga pangan dan energi yang lebih tinggi, dan tekanan harga yang lebih luas,” kata The Fed dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan kebijakan dua hari yang dikutip Antara.

Pernyataan tersebut juga menyebut bahwa bank sentral sangat memperhatikan risiko inflasi. “Perang (di Ukraina) dan peristiwa terkait menciptakan tekanan tambahan pada inflasi dan membebani aktivitas ekonomi global,” tulis The Fed.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) selaku badan pembuat kebijakan Fed, memutuskan untuk menaikkan kisaran target suku bunga dana federal menjadi 2,25 hingga 2,50 persen, dengan mengantisipasi kenaikan berkelanjutan dalam kisaran sesuai target.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa semua 12 anggota komite memberikan suara untuk keputusan tersebut. Komite mencatat bahwa mereka juga akan terus mengurangi kepemilikannya atas sekuritas pemerintah, utang agensi dan sekuritas yang didukung hipotek agensi.

Langkah terbaru datang setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin pada pertemuan Juni, menandai kenaikan suku bunga paling tajam sejak 1994. The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Maret dan kemudian sebesar 50 basis poin pada Mei.

Indeks harga konsumen (IHK) utama tetap di atas 8,0 persen sejak Maret tahun ini, sebuah pengingat bahwa The Fed masih harus menempuh jalan panjang untuk mengendalikan inflasi yang meningkat. IHK pada Juni melonjak 9,1 persen dari setahun lalu, mencapai level tertinggi baru empat dekade.

“Sementara kenaikan luar biasa besar lainnya mungkin sesuai pada pertemuan kami berikutnya, itu adalah keputusan yang akan bergantung pada data yang kami dapatkan antara sekarang dan nanti,” kata Jerome Powell Ketua Fed pada Rabu (27/7/2022) sore dalam konferensi pers.

Ketua Fed mencatat bahwa kisaran saat ini 2,25 hingga 2,5 persen adalah apa yang FOMC anggap sebagai level netral. Artinya, kebijakan moneter Fed tidak akomodatif atau membatasi.

“Saya pikir komite secara luas merasa, kita perlu membuat kebijakan ke tingkat yang cukup ketat,” kata Powell, mengutip proyeksi ekonomi triwulanan terbaru yang dirilis pada Juni, yang menunjukkan bahwa proyeksi median FOMC untuk suku bunga Federal Fund pada akhir tahun ini adalah 3,4 persen.

Powel juga menolak pandangan bahwa ekonomi AS sudah dalam resesi, dengan alasan kekuatan pasar tenaga kerja. “Kami tidak mencoba untuk mengalami resesi dan kami tidak berpikir kami harus melakukannya,” tegasnya.

Menurut model GDPNow Federal Reserve Bank of Atlanta yang diperbarui Rabu (27/7/2022), ekonomi AS diperkirakan telah menyusut pada tingkat tahunan 1,2 persen pada kuartal kedua.

Dengan penurunan kuartal pertama sebesar 1,6 persen, pertumbuhan negatif kuartal kedua berturut-turut akan memenuhi definisi teknis resesi. Powell mengatakan kepada wartawan bahwa The Fed melihat “risiko dua sisi” karena terus berjuang melawan inflasi tinggi selama empat dekade.

“Melakukan terlalu banyak dan memaksakan lebih banyak penurunan pada ekonomi daripada yang diperlukan, tetapi risiko melakukan terlalu sedikit dan meninggalkan ekonomi dengan inflasi yang mengakar ini, itu hanya meningkatkan biaya (untuk menanganinya nanti). Kami berusaha untuk tidak membuat kesalahan,” pungkasnya. (ant/bil/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Muatan Truk Jatuh Menutup Lajur di Jalan Dupak

Menerjang Kemacetan di Jembatan Branjangan

Atap Teras Pendopo Gresik Roboh

Surabaya
Kamis, 8 Desember 2022
30o
Kurs