Jumat, 21 Juni 2024

Harga Minyak Naik Dipicu Permintaan Ekspor yang Kuat

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
ilustrasi harga minyak naik. Foto: Pixabay

Harga minyak naik sekitar 1,5 persen pada Kamis pagi, akibat penarikan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS)  lebih curam dari perkiraan yang menyebabkan kekhawatiran atas peningkatan produksi dan ekspor Rusia serta kekhawatiran resesi.

Seperti yang dilansir Antara, Kamis (18/8/2022), minyak mentah berjangka Brent (patokan harga global) untuk pengiriman Oktober meningkat 1,31 dolar AS  atau 1,42 persen, menjadi 93,65 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, setelah jatuh ke level terendah 91,51 dolar AS sejak Februari.

Minyak mentah berjangka standar perdagangan minyak AS/ West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September, juga bertambah 1,58 dolar AS atau 1,8 persen, menjadi 88,11 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan, Stok minyak mentah AS turun 7,1 juta barel hingga 12 Agustus yang menjadi 425 juta barel, dibandingkan data para analis yang memperkirakan penurunan 275.000 barel.

Data EIA juga menunjukkan ekspor minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi yakni 5 juta barel per hari, karena WTI yang diperdagangkan dengan diskon tinggi terhadap Brent, yang membuat pembelian minyak mentah AS lebih menarik bagi pembeli asing.

American Petroleum Institute (API) pada Selasa (16/8/2022) menandai penarikan 448.000 barel dalam stok minyak mentah dan 4,5 juta barel dalam persediaan bensin.

Harga minyak telah melonjak pada tahun 2022, mendekati level tertinggi sepanjang masa di 147 dolar AS per barel pada Maret setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Dokumen kementerian ekonomi menunjukkan, Rusia telah mulai secara bertahap meningkatkan produksi minyak setelah pembatasan terkait sanksi dan karena pembeli Asia telah meningkatkan pembelian, membuat Moskow meningkatkan perkiraan untuk produksi dan ekspor hingga akhir 2025.

Prospek resesi baru-baru ini membebani harga minyak. Inflasi harga konsumen Inggris melonjak menjadi 10,1 persen pada Juli yang tertinggi sejak Februari 1982.

“Ada risiko penurunan yang meningkat, sebagai akibat dari prospek pertumbuhan dan ketidakpastian yang sedang berlangsung seputar pembatasan Covid China,” kata Craig Erlam dari broker OANDA.

Sementara itu, di sisi pasokan minyak, pasar sedang menunggu perkembangan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015 dengan kekuatan dunia, yang pada akhirnya dapat mengarah pada peningkatan ekspor minyak Iran.

Analis di Goldman Sachs mengatakan kembalinya pasokan minyak mentah Iran akan mengurangi perkiraan tahun 2023 mereka sebesar 5-10 dolar AS per barel dari 125 dolar AS per barel. (ant/des/rst)

Berita Terkait

..
Surabaya
Jumat, 21 Juni 2024
28o
Kurs