Rabu, 1 Februari 2023

INDEF Yakin Presidensi G20 Menghadirkan Efek Positif Ganda buat Perekonomian Indonesia

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan

Rizal Taufikurahman Ekonom INDEF menilai kesuksesan Presidensi G20 Indonesi bakal memberikan efek positif bagi perekonomian nasional, terutama daerah Bali yang menjadi pusat acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

“Kami memprediksi akan positif bagi kinerja ekonomi nasional. Transmisinya dari sektor pariwisata yaitu perdagangan, transportasi, makanan dan minuman, Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions (MICE), perhotelan, dan jasa-jasa,” ujarnya di Jakarta, Kamis (17/11/2022).

Dia memperikirakan multiplier effect event G20 bagi perekonomian RI mencapai Rp6,6 triliun, atau lebih rendah dari perhitungan Pemerintah sekitar Rp7,4 triliun.

“Ada efek langsung dan tidak langsung. Efek langsung seperti pengeluaran wisatawan mancanegara seperti belanja hotel/MICE, makanan dan minuman, pakaian, UMKM, dan lain-lain. Sedangkan efek tidak langsung terhadap kinerja perekonomian terutama sektor pariwisata, seperti sektor industri pengolahan makanan dan minuman, perdagangan, transportasi udara, laut dan darat, perhotelan, serta jasa lainnya semisal jasa laundry, hiburan, dan lain-lain,” jelasnya.

Selain sektor pariwisata, komitmen G20, kata Rizal juga akan mendorong perdagangan terutama ekspor.

Pada KTT G20 Indonesia juga menerima sejumlah komitmen investasi mau pun hibah, terutama dalam bidang transisi energi.

Joe Biden Presiden Amerika Serikat yang duduk bersama Airlangga Hartarto Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI di sela KTT G20 menyatakan Pemerintah AS secara resmi mengumumkan proyek baru PGII.

Antara lain kemitraan Just Energy Transition Partnership (JETP) yang memobilisasi 20 miliar Dollar AS pembiayaan sektor publik dan swasta untuk Indonesia, Indonesia Millenium Challenge Corporation (MCC) Compact yang telah berhasil meluncurkan 698 juta Dollar AS.

Airlangga Hartarto berharap, segala kesepakatan yang tercapai dalam G20 tahun ini memberikan manfaat untuk Indonesia serta negara-negara lain di dunia, terutama negara berkembang.

Sementara itu, Yose Rizal Damuri Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut G20 membawa manfaat untuk perekonomian global dan masyarakat Indonesia.

Dia bilang, G2O membawa optimisme bagi perekonomian nasional dengan beberapa komitmen atau kesepakatan yang langsung merujuk pada Indonesia.

Salah satunya adalah proyek kemitraan Just Energy Transition Partnership (JETP) yang memobilisasi 20 miliar Dollar AS pembiayaan sektor publik dan swasta untuk Indonesia.

“Tentunya ada beberapa proyek atau kesepakatan yang memang khusus untuk Indonesia. Contohnya JETP yang dipromosikan G7, kemudian kemarin idiumumkan Joe Biden. JETP itu untuk negara-negara berkembang, tapi yang diberikan secara spesifik pertama kali adalah Indonesia. 20 miliar Dollar AS itu komitmennya untuk transisi energi,” tegasnya.

Sekadar informasi, JETP adalah proyek baru dari Partnership for Global Infrastructure and Investment (PGII) yang menjadi upaya kolaboratif anggota G7 (Amerika Serikat, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Prancis).

PGII memiliki komitmen selama lima tahun ke depan untuk menginvestasikan 600 miliar Dollar AS dalam bentuk pinjaman dan hibah untuk proyek infrastruktur berkelanjutan bagi negara berkembang.

Walau begitu, Yose menegaskan Indonesia masih harus mengejar realisiasi dari komiten tersebut.

“Sekali lagi memang ada yang dibawa secara konkret walau pun itu bentuknya masih komitmen. Harus terus ditindaklanjuti supaya komitmennya terealisasi,” pungkasnya.(rid/ipg)

Berita Terkait