Rabu, 6 Juli 2022

Peluang Ekspor UMKM Terkendala Lima Hal Ini

Laporan oleh Manda Roosa
Bagikan
Dr. Tommy Kaihatu dan Ir Fernanda Reza Muhammad melakukan penandatangan kerjasama bersama di acara Ecopreneur Days Program Studi Ekonomi Pembangunan di Bangsal Pancasila di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Senin (23/5/2022). Foto: Manda Roosa suarasurabaya.net

Fernanda Reza Muhammad Tenaga Teknis Bidang Promosi dan Strategi Pemasaran, Export Center Surabaya mengatakan sejumlah sektor masih potensial untuk dieksplorasi usaha skala kecil dan menengah dalam upaya untuk meningkatkan ekspor. Meski demikian masih ada sejumlah kendala yang dihadapi.

Fernanda Reza Muhammad mengisahkan tentang gagal ekspor karena masalah tidak kehati-hatian. “Jadi sewaktu barang masuk kontainer ada kucing yang juga ikut masuk, nah akhirnya sampai di sana tercium bangkai kucing. Produknya tidak boleh diterima, dan pilihannya produknya dikembalikan ke Indonesia atau dimusnahkan,” kisahnya di acara Ecopreneur Days Program Studi Ekonomi Pembangunan di Bangsal Pancasila di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Senin (23/5/2022).

Fernanda juga mengingatkan tentang pentingnya kelengkapan dokumen. “Karena kalau mengurus di sana jatuhnya lebih mahal lagi,” ingatnya. Untuk itu ia meminta para pelaku UMKM dan mahasiswa Fakultas Ekonomi UWKS yang berniat mengirim produk ke pasar global memahami kelengkapan dokumen ekspor.

Sementara itu, Dr. Tommy Kaihatu, Kepala Pengelola Export Center Surabaya mengatakan potensi besar produk UMKM untuk pasar ekspor.

“Kalau digenjot ekspornya sangat bisa, berdasar data nilai ekspor kita total di atas 200 miliar dollar, padahal ini di tengah pandemi,” ungkapnya.

Tommy menegaskan jika di luar pandemi mestinya akan lebih banyak lagi, sayangnya masih ada kendala yang dihadapi dan ini lima penyebabnya.

1. Kendala paling besar SDM  kurang kompeten. “Memasuki pasar, tapi tidak tahu cara mengakses pasar,” jelasnya.

2. Masalah berkomunikasi keterbatasan dalam penguasaan bahasa

3. Produk tidak konsisten. “Kadang bagus, kadang tidak, kuantitas juga tidak konsisten, kadang banyak, kadang tidak,” ujarnya.

“Misalnya kita ada kontrak dengan Jepang untuk mengekspor udang itu kalau kontraknya 10 kointainer, jangan sampai bulan Januari 10, Febuari 3, lalu diganti bulan berikutnya 17 kontainer. Mereka jelas tidak mau,” ungkapnya.

4. Masalah Permodalan. Bagaimana pemerintah memberikan akses permodalan.

5. Peraturan Pemerintah yang berubah-ubah menyebabkan para eksportir sering kebingungan misalnya izin pengurusan BPOM untuk produk makanan dan kosmetik.(man/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 6 Juli 2022
27o
Kurs