Rabu, 1 Februari 2023

Program Wirausaha Merdeka Lahirkan Ratusan Kelompok dan Ide Bisnis

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Adik Dwi Putranto Ketua Umum Kadin Jatim bersama Eko Julianto Direktur PPNS sedang melihat salah satu ide peserta program Wirausaha Merdeka dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) yang membuat stabilisator output panel Surya saat "Demo Day Wirausaha Merdeka" di Dyandra Convention Hall Surabaya, Senin (5/12/2022). Foto: Kadin Jatim

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur bekerja sama dengan tiga lembaga luar negeri untuk mendukung program Wirausaha Merdeka. Program ini diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP).

Adik Dwi Putranto Ketua Umum Kadin Jatim mengatakan pihaknya berkomitmen menciptakan wirausaha-wirausaha berprestasi yang akan membawa Indonesian menjadi negara makmur. Kadin juga berkomitmen dalam meningkatkan kualitas SDM dan tenaga kerja di Jawa Timur agar berdaya saing tinggi.

“Kami ingin di setiap industri besar dan kecil, miliki pelatih tempat kerja yang sesuai harapan bersama, yang mampu mencetak tenaga kerja berkompeten. Kami berupaya menyiapkan semua industri untuk miliki pelatih tempat kerja,” ujar  melalui keterangan tertulis, Senin (5/12/2022).

Program Project Based Learning Technopreneurship Wirausaha Merdeka yang diluncurkan pada 29 Agustus 2022 tersebut diikuti 1.067 mahasiswa dari 17 perguruan tinggi. Telah menghasilkan 107 kelompok dengan 103 ide bisnis. Semua dipamerkan dalam kegiatan Demo Day Wirausaha Merdeka di Dyandra Convention Hall, Surabaya, Senin (5/12/2022).

Sampai hari ini, ada sekitar 900 mahasiswa yang sudah melaksanakan sertifikasi dan uji kompetensi. Menyusul, sekitar 167 mahasiswa akan melaksanakan sertifikasi dan uji kompetensi pada Selasa (6/12/2022). Dari sisi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sekitar 70 persen sudah melakukan pengajuan.

Kadin Jatim mencatat jumlah wirausaha Indonesia masih sangat kecil, hanya sekitar 3,5 persen hingga 4 persen dari total jumlah penduduk. Jumlah ini lebih kecil dibanding negara tetangga, Vietnam misalnya jumlah wirausahanya sudah mencapai 6 persen hingga 7 persen. Bahkan jumlah wirausaha di Singapura sudah mencapai 8 persen.

“Untuk menjadi negara makmur dan sejahtera, juga wirausahanya harus mencapai 12 persen. Kita ketinggalan jauh dari negara tetangga,” katanya.

Terlebih jumlah industri yang bisa menampung seluruh lulusan perguruan tinggi sangat terbatas. Sehingga solusinya adalah dengan menciptakan wirausaha sebanyak-banyaknya. “Dengan kolaborasi yang sangat kuat antara dunia pendidikan, dunia usaha dan industri serta pemerintah, saya yakin jumlah wirausaha kita akan bisa bergerak cepat,” ujar Adik.

Eko Julianto Direktur PPNS mengatakan bahwa banyaknya kelompok bisnis dan ide bisnis yang tercipta menjadi satu pencapaian luar biasa. Bahkan dari seluruh mahasiswa yang ikut, tidak satu pun yang berhenti tengah jalan.

“Hari ini kita sudah dapat membuktikan bahwa hal yang awalnya di awang-awang, ternyata kita mampu melakukannya melalui kerjasama yang baik semua pihak, mulai dari perguruan tinggi hingga pembimbing di lapangan dan Kadin Jatim,” ungkapnya.

Program ini telah memberikan pengalaman praktis mahasiswa untuk memunculkan ide bisnis. Peserta juga dituntut untuk mampu menawarkan produk. “Ini akan menjadi bekal mereka untuk berkarya dan berdaya saing tinggi dalam menghadapi tantangan,” kata Eko Julianto.

Ide Bisnis Mahasiswa

Salah satu ide bisnis yang cukup menarik dan bisa dikomersilkan yaitu penggunaan MPPT solar cell sistem pembangkit DC Grid, penstabil tegangan output dari panel surya.

“Tegangan dari panel surya kan fluktuatif, kadang di bawah 12 volt, juga bisa mencapai diatas 20 volt. Dengan alat ini, maka output bis diseragamkan,” kata Muhammad Coirul Ibad, perwakilan kelompok 69.

Sedangkan kelompok 92 Universitas Qomaruddin Gresik membuat ide media pembelajaran flip stacko yang disertai modul berisi materi, panduan permainan dan balok stacko.

“Kami menyediakan dua mata pelajaran, matematika dan Bahasa Inggris. Melalui pembelajaran dengan flip stacko. Ini sangat cocok bagi anak-anak yang malas belajar, dengan media ini mereka bisa lebih tertarik untuk mengasah pembelajaran mereka. Pembelajaran flip stacko yang kami buat khusus untuk kelas 5-9,” terang Melinda Dwi Wijayanti Ketua Kelompok 92 dari Universitas Qomaruddin Gresik.(iss/ipg)

Berita Terkait