Kamis, 26 Februari 2026
Advertorial

Arus Logistik Meningkat, Pelaku Usaha Dorong Penguatan Infrastruktur Depo Peti Kemas di Luar Pelabuhan Merauke

Laporan oleh Tim Redaksi
Bagikan
Ilustrasi aktivitas di Pelabuhan Merauke. Foto: Istimewa

Pelaku usaha logistik mendorong penguatan infrastruktur di Pelabuhan Merauke seiring meningkatnya pembangunan di wilayah Indonesia timur. Posisi pelabuhan tersebut kini semakin strategis sebagai pintu masuk distribusi barang untuk Provinsi Papua Selatan dan kawasan sekitarnya.

Dorongan utama yang disampaikan pelaku usaha adalah pembangunan depo peti kemas di luar area pelabuhan, guna mengurai kepadatan dan meningkatkan efisiensi layanan logistik.

Abi Bakri Alhamid Ketua DPC Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Merauke, mengatakan peningkatan pembangunan di Papua Selatan secara langsung berdampak pada kenaikan arus logistik menuju Merauke. Kondisi itu, menurutnya, harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur yang memadai.

Ia menilai keberadaan depo peti kemas di luar pelabuhan menjadi solusi jangka panjang agar distribusi kontainer tidak menumpuk di dalam kawasan pelabuhan.

“Selain itu, untuk jangka pendek, kontainer ke luar pelabuhan harus diberikan izin oleh pemerintah daerah agar bisa langsung keluar ke gudang distributor, ini untuk mencegah terjadinya stagnasi di lapangan penumpukan yang ada di dalam pelabuhan,” katanya, Senin (23/2/2026).

Hal serupa disampaikan Puji Hermoko Kepala PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL) Cabang Merauke. Ia menyebut kondisi lapangan penumpukan saat ini sudah cukup padat karena aktivitas bongkar muat dan pengolahan peti kemas masih dilakukan dalam satu area.

“Kondisi saat ini (stripping dan stuffing) dilakukan di dalam pelabuhan menjadikan lapangan penumpukan menjadi padat, sehingga bongkar muat kapal tidak optimal, ini berdampak pada waktu tunggu kapal,” ujar Puji.

Menurutnya, pembangunan depo peti kemas di luar pelabuhan menjadi langkah mendesak untuk mengurai kepadatan sekaligus memperlancar arus distribusi barang di wilayah timur Indonesia.

Di sisi lain, Julivan Ch. L. Salindeho Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Merauke mengakui kegiatan stripping dan stuffing hingga kini masih berlangsung di dalam area pelabuhan. Sementara luas lapangan penumpukan yang tersedia hanya sekitar 1,5 hektar.

“Walaupun luasnya 1,5 hektar, yang bisa berfungsi optimal untuk lapangan penumpukan hanya sekitar 1 sampai 1,2 hektar,” kata Julivan dalam rapat bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) belum lama ini.

Ia menjelaskan KSOP bersama Pelindo, pemerintah daerah, perusahaan pelayaran, serta pelaku usaha Jasa Pengurusan Transportasi (JPT) terus memperkuat koordinasi untuk menyiapkan depo peti kemas di luar pelabuhan.

Pemindahan aktivitas stuffing dan stripping diharapkan mampu mengoptimalkan kapasitas lapangan penumpukan dan mempercepat proses bongkar muat kapal.

Suroso Direktur PT Berkah Mutiara Laut, menilai tantangan distribusi logistik akan semakin besar, terutama ketika pabrik tebu di Papua Selatan mulai beroperasi. Karena itu, pembangunan depo peti kemas dinilai penting untuk menjaga kelancaran rantai pasok masyarakat.

Menurutnya, lokasi depo idealnya tidak jauh dari pelabuhan, dengan jarak maksimal sekitar tiga kilometer dari dermaga agar mobilitas tetap efisien, mengingat kondisi jalan darat di Merauke belum seluruhnya dapat dilalui kendaraan kontainer.

“Di tengah pertumbuhan arus barang dan ambisi pembangunan kawasan, kesiapan infrastruktur pelabuhan menjadi kunci agar Merauke benar-benar mampu menopang denyut ekonomi Papua Selatan,” katanya.

Arus Peti Kemas Terus Meningkat

Adapun PT Pelindo Terminal Petikemas selaku operator terminal peti kemas di Pelabuhan Merauke mencatat pertumbuhan arus peti kemas mencapai 14 persen dalam dua tahun terakhir.

Muhammad Rasul Irmadani Terminal Head TPK Merauke, mengatakan arus peti kemas pada 2025 tercatat sebanyak 52.715 TEUs, meningkat dari 46.429 TEUs pada 2024. Sementara pada 2024, angka tersebut juga tumbuh dari 40.671 TEUs pada 2023.

Peningkatan volume tersebut membuat tingkat keterisian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (YOR) mencapai rata-rata 75 persen karena sebagian area masih digunakan untuk kegiatan stripping dan stuffing.

Dengan keberadaan depo peti kemas di luar pelabuhan, tingkat keterisian lapangan diproyeksikan dapat ditekan hingga sekitar 40 persen sehingga aktivitas bongkar muat kapal menjadi lebih optimal.

Pelindo juga menambah sejumlah peralatan pendukung operasional, antara lain satu unit side loader untuk pengangkutan peti kemas kosong, satu unit head truck dan chassis, serta tambahan reach stacker dan dua unit head truck dan chassis yang masih dalam proses pengiriman.

“Kami sangat mendukung keberadaan depo di luar pelabuhan, dengan demikian kapasitas lapangan penumpukan dapat optimal untuk kegiatan bongkar muat peti kemas yang setiap tahun semakin meningkat,” jelas Rasul. (adv/bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Kamis, 26 Februari 2026
31o
Kurs