Kamis, 8 Oktober 2026

Besarnya Potensi Ekonomi Syariah Indonesia, Jatim Punya Peran Strategis

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Yono Haryono Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur saat memaparkan terkait potensi ekonomi Indonesia, dalam Capacity Building Media Bank Indonesia Jawa Timur 2026 di Solo, Jawa Tengah. Foto: Fitriana Ayu suarasurabaya.net

Ekonomi dan keuangan syariah dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Bukan hanya melalui industri halal, peluang tersebut juga terbuka dari sektor keuangan, perdagangan, pariwisata hingga pengembangan usaha masyarakat.

Yono Haryono Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur mengatakan, ekonomi syariah saat ini berkembang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi global. Hal itu terlihat dari besarnya konsumsi masyarakat muslim dunia maupun pertumbuhan aset keuangan syariah.

“Berdasarkan data Bank Indonesia, konsumsi global masyarakat muslim pada sektor ekonomi syariah mencapai sekitar 2,60 triliun dolar AS pada 2024. Sementara aset keuangan syariah global mencapai 9,72 triliun dolar AS,” kata Yono dalam Capacity Building Media Bank Indonesia Jawa Timur 2026 di Solo, Jawa Tengah.

Yono menjelaskan, Indonesia saat ini berada di posisi keempat dalam perkembangan ekonomi dan keuangan syariah global, setelah Malaysia, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Sejumlah sektor yang membuat Indonesia berada di peringkat lima besar itu di antaranya, modest fashion hingga industri makanan halal.

Namun, lanjut Yono, besarnya potensi tersebut masih menyisakan ruang pengembangan untuk sejumlah sektor seperti, industri pariwisata ramah muslim, farmasi dan kosmetik halal, pembiayaan syariah hingga literasi dan inklusi ekonomi syariah masih perlu diperkuat.

“Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi daerah, termasuk Jawa Timur, untuk mengambil peran dalam pengembangan ekosistem ekonomi syariah. Karena, ekonomi syariah tidak semestinya dipahami sebatas produk yang memiliki label halal. Tapi di dalamnya juga ada prinsip keadilan, keseimbangan, transparansi, pembagian risiko dan kemaslahatan,” ungkapnya.

Karena itu, kata Yono, pengembangan ekonomi syariah dapat diarahkan pada penguatan sektor riil dan pelaku usaha mulai dari, peningkatan kapasitas usaha, akses pembiayaan, penguatan rantai nilai halal, hingga memperluas pasar produk Indonesia ke tingkat global.

Bank Indonesia juga melihat ekonomi syariah sebagai bagian dari upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang, mengurangi kesenjangan dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Bagi Jawa Timur, peluang tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat ekosistem usaha dan industri halal, terutama dengan menghubungkan pelaku usaha dengan pembiayaan, pasar, digitalisasi dan rantai nilai halal.

“Dengan demikian, ekonomi syariah tidak berhenti sebagai konsep maupun gaya hidup, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi produktif yang menciptakan peluang usaha dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat,” tutupnya.(fay/kir/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 8 Oktober 2026
33o
Kurs