“Bahkan meskipun rate SRBI tetap, kita memberikan insentif kepada dana asing yang masuk untuk membeli SBN ataupun SRBI, sehingga dana tersebut benar-benar merupakan fresh money yang masuk,” ujar Destry.
Dia menambahkan, strategi tersebut diperkuat melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). BI berharap perbankan dapat mengurangi kepemilikan SBN maupun SRBI agar lebih fokus menjalankan fungsi intermediasi, sementara ruang investasi tersebut diisi oleh dana asing.
“Jadi strategi SRBI saat ini, seperti yang kami sampaikan, adalah bermain pada sisi insentif, dengan spread yang tetap menarik. Sehingga, dapat menarik inflow masuk ke dalam portofolio investasi kita,” kata Destry.
Dalam RDG yang berlangsung pada 21–22 Juli 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Suku bunga deposit facility tetap 4,75 persen dan lending facility bertahan di level 6,5 persen.
Sebelumnya, BI telah menaikkan BI-Rate secara bertahap sejak Mei hingga Juni 2026 untuk meredam tekanan terhadap Rupiah. Berdasarkan kurs JISDOR, nilai tukar Rupiah pada Rabu (22/7) ditutup stabil di level Rp17.909 per Dollar AS. (ant/ham/rid)

NOW ON AIR SSFM 100

