Keterlambatan waktu sandar dan bongkar muat di sejumlah pelabuhan, menyebabkan produktivitas menurun di tengah arus logistik yang meningkat pada awal tahun 2026.
Menurut Sebastian Wibisono Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, molornya bongkar muat kapal di sejumlah pelabuhan karena peralatan yang digunakan sering rusak.
“Kalau biasanya maksimal menunggu pembongkaran cuma tiga hari, sekarang bisa sampai enam hari. Ya ini karena beberapa alat bongkar muat sudah tua seperti di Terminal Peti Kemas (TPK) Nilam, dan TPK Mirah di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya,” katanya, Sabtu (31/1/2026).
Sebastian menambahkan, idealnya jumlah Container Processing Area (CPA) per jam adalah 30-40 kontainer. Namun, karena ada kendala bongkar muat, hanya mampu menangani 10 kontainer saja.
Karena keterlambatan proses bongkar muat itu, lanjut Sebastian, pengiriman barang ikut terdampak.
“Akhirnya terjadi kelangkaan kontainer atau shortage di beberapa pelabuhan. Sementara perusahaan-perusahaan forwarder yang sudah memiliki jadwal pengiriman barang, menjadi molor pengangkutannya,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Steven H. Lesawengen Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya menambahkan bahwa keterlambatan penanganan bongkar muat kapal juga terjadi di TPK Berlian, Tanjung Perak Surabaya, karena alat yang dinilai belum siap.
Sementara terpisah, manajemen TPK Berlian dan TPK Mirah belum memberikan komentar terkait hal in. Sedangkan manajemen TPK Nilam Tanjung Perak menampik adanya kerusakan alat bongkar muat di terminal tersebut.
Adapun Komang Perwakilan Terminal Petikemas Semarang (TPKS) menjelaskan bahwa keterlambatan kapal sandar dan bongkar muat masih dalam batas kewajaran dan dipengaruhi oleh faktor eksternal yakni, cuaca.
“Traffic di bulan Desember sampai Januari memang naik. Ditambah lagi faktor cuaca yang kurang bersahabat, sehingga proses pelayanan menjadi terhambat,” terangnya.
Untuk menekan dampak keterlambatan sekaligus menjaga kelancaran arus barang, TPKS menyiapkan langkah antisipatif dengan menambah sejumlah peralatan pendukung bongkar muat.
“Kami akan menambah empat kontainer crane dan penambahan dermaga sepanjang 275 meter, serta beberapa penambahan area stacking. Harapannya dapat meningkatkan produktivitas terminal dan mempersingkat waktu tunggu kapal,” tutupnya. (kir/saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
