Jumat, 20 Februari 2026

Ekonom: Nilai Tukar Rupiah Stabil Rp16.800 Per Dolar AS di Akhir 2026

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi, Dolar AS dan Rupiah

Josua Pardede Kepala Ekonom Permata Bank memprediksi nilai tukar rupiah akan relatif stabil di angka Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS pada akhir tahun 2026.

“Dalam jangka pendek, karena ada efek asesmen dari MSCI dan Moody’s, kami melihat nilai tukar rupiah akan cenderung relatif stabil di akhir tahun ini, kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800,” kata Josua dalam Economic Outlook 2026, seperti dilansir dari Antara, Jumat (20/2/2026).

Meskipun demikian, dari pengamatan Josua, nilai rupiah saat ini masih lebih renda dibandingkan fundamnetal ekonomi saat ini. Namun, apabila situasi pasar mereda, rupiah diprediksi memiliki peluang ke level fundamentalnya.

“Sangat mungkin (rupiah kembali ke level fundamental). Karena kalau faktor sentimen ini mulai mereda dari eksternalnya, titik keseimbangan itu akan balik lagi ke level fundamentalnya,” katanya.

Dilihat dari segi domestik, transmisi penurunan suku bunga ke industri perbankan belum optimal. Kondisi penurunan suku bunga kredit tertahan ini bisa disebabkan ketatnya biaya dana karena persaingan penghimpunan dana, salah satunya deposan besar yang masih meminta bunga deposito tinggi.

Walaupun dengan kondisi tersebut, Josua berpendapat jika likuiditas perbanka tetap terjaga dan didukung penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) yan membuat transmisi penurunan suku bunga tetap berlanjutsecara bertahap.

Pergerakan transmisi ini bisa berbeda antarbank karena kondisi likuiditas dan risk appetite setiap bank berbeda. Sedangkan untuk pergerakan rupiah sendiri, bagi masyarakat yang tidak memiliki kepentingan terhadap kurs tidak perlu merasa panik.

Di tengah situasi ini, Josua mengingatkan walaupun level rupiah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS memang mirip dengan periode krisis 1997–1998, tetap konteksnya berbeda.

“Yang perlu kita perhatikan adalah kondisi pelemahan rupiah saat itu jauh berbeda dengan kondisi pelemahan rupiah saat ini. Kondisi fundamental ekonomi kita pun jauh berbeda,” jelasnya.(ant/mar/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 20 Februari 2026
26o
Kurs