Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak menguat pada pembukaan perdagangan Rabu (24/6/2026) pagi.
Penguatan ini terjadi setelah pelaku pasar merespons positif keputusan penyedia indeks global MSCI yang mempertahankan klasifikasi pasar modal Indonesia sebagai Emerging Market.
IHSG dibuka naik 26,94 poin atau 0,44 persen ke level 6.128,27. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga mencatat penguatan sebesar 2,70 poin atau 0,45 persen ke posisi 601,13.
Maximilianus Nicodemus Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, secara teknikal IHSG masih memiliki peluang mengalami pelemahan terbatas dengan rentang support dan resistance berada di level 6.050 hingga 6.220.
“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.050-6.220,” ujar Nico dilansir dari Antara.
Dari sisi global, MSCI mengapresiasi langkah reformasi yang dilakukan Indonesia dalam pengembangan pasar modal. Namun, lembaga penyedia indeks tersebut masih akan melakukan evaluasi terhadap cakupan, konsistensi, serta efektivitas reformasi pasar modal Indonesia, khususnya terkait penentuan free float dan kelayakan investasi.
MSCI menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar Indonesia. Jika tidak terdapat kemajuan yang memadai dalam Tinjauan Indeks MSCI November 2026, MSCI membuka kemungkinan untuk mempertimbangkan perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Markets.
“Jika kemajuan yang memadai tidak terlihat pada saat Tinjauan Indeks MSCI November 2026, MSCI masih akan mempertimbangkan berbagai opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia, yang berpotensi mencakup konsultasi tentang reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Markets,” tulis MSCI dalam pengumumannya.
Menanggapi keputusan tersebut, Nico menilai tantangan terbesar pasar modal Indonesia saat ini bukan hanya terkait reformasi, melainkan juga tingkat kepercayaan investor asing untuk kembali menanamkan modal di dalam negeri.
Menurutnya, berbagai faktor seperti kebijakan pemerintah, stabilitas politik, hingga kepastian regulasi menjadi perhatian utama investor global.
“Meskipun pasar modal Indonesia sudah melakukan segala hal, namun tampaknya kepercayaan masih menjadi hambatan utama bagi investor asing khususnya untuk bisa masuk kembali (foreign inflow),” kata Nico.
“Tidak pernah rasanya, Indonesia mengalami tekanan seperti ini yang datang dari berbagai macam penjuru mata angin,” lanjutnya.
Di sisi lain, Nico menilai kebijakan penerbitan Patriot Bond dan Merah Putih Bond berpotensi menarik dana yang selama ini berada di luar sistem keuangan agar kembali masuk ke perekonomian domestik.
Jika berjalan efektif, kebijakan tersebut dinilai mampu meningkatkan likuiditas dalam negeri sekaligus memberikan alternatif sumber pembiayaan bagi pemerintah.
“Namun, kebijakan ini juga berisiko menimbulkan persepsi sebagai bentuk tax amnesty terselubung, sehingga implementasi dan pengawasannya perlu dijaga agar tidak mengurangi kepercayaan terhadap sistem perpajakan dan penegakan hukum,” ujar Nico.
Sementara itu, Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan menegaskan, perlindungan hukum bagi investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond hanya diberikan terhadap dana yang ditempatkan pada instrumen tersebut.
Ia memastikan bahwa perlindungan tersebut bukan bentuk kekebalan hukum secara umum bagi investor, melainkan langkah untuk menarik dana yang selama ini berada di luar sistem keuangan agar masuk dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
Sebelumnya, sentimen eksternal masih menjadi perhatian pasar. Pada perdagangan Selasa (23/6), mayoritas bursa Eropa ditutup melemah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,25 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,09 persen, DAX Jerman terkoreksi 0,98 persen, dan CAC 40 Prancis turun 0,71 persen.
Tekanan juga terjadi di Wall Street. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,09 persen, S&P 500 turun 1,44 persen, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 3,29 persen.
Di kawasan Asia, pergerakan bursa berlangsung beragam. Indeks Nikkei Jepang melemah 0,40 persen ke level 69.507, indeks Shanghai turun 0,21 persen menjadi 4.097,84, sedangkan Hang Seng Hong Kong menguat 0,10 persen ke posisi 23.358,50 dan Strait Times Singapura naik 0,17 persen ke level 5.215,43. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

