Jumat, 20 Februari 2026

IHSG Ditutup Melemah Akibat Ketegangan AS-Iran dan Risiko Geopolitik Global

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Layar Digital Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). Foto: Antara

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sentimen utama yang menekan pasar saham global, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (20/2/2026) sore, di tengah kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas energi dunia.

IHSG terkoreksi tipis 2,31 poin atau 0,03 persen ke level 8.271,77, meski pergerakan pasar menunjukkan kehati-hatian yang tinggi jelang akhir pekan. Di sisi lain, indeks saham unggulan LQ45 justru menguat 0,12 persen ke posisi 835,28, mencerminkan adanya selektivitas investor pada saham-saham berfundamental kuat.

“Jelang akhir pekan, IHSG bergerak di zona melemah akibat dominasi sentimen eksternal,” ujar Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas di Jakarta saat dilansir dati Antara, pada Jumat (20/2/2026).

Tekanan datang dari meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul langkah Donald Trump Presiden AS yang menetapkan tenggat waktu 10-15 hari bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan nuklir.

Pelaku pasar menilai tenggat tersebut sebagai sinyal tekanan politik Washington terhadap Iran. Pada saat bersamaan, AS dilaporkan mengerahkan kekuatan militer terbesarnya di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003, meningkatkan risiko konflik terbuka yang lebih luas dan berkelanjutan.

Situasi itu, memicu kekhawatiran bahwa Iran dapat membatasi lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak mentah global. Jika skenario tersebut terjadi, lonjakan harga energi dinilai tak terhindarkan dan berpotensi memperparah volatilitas pasar keuangan dunia.

Di tengah tekanan global, sentimen domestik memberi penyangga terbatas. Pemerintah Indonesia dan AS telah menandatangani draft kesepakatan tarif impor sebesar 19 persen, yang diharapkan memberi kepastian bagi dunia usaha dan investor. Namun, belum adanya kejelasan waktu implementasi membuat pasar belum sepenuhnya merespons positif.

Secara teknikal, IHSG yang dibuka menguat langsung berbalik arah dan bergerak di zona merah hingga akhir sesi kedua, menandakan kuatnya sikap wait and see pelaku pasar.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, lima sektor mencatat penguatan, dipimpin sektor keuangan yang naik 1,27 persen, disusul sektor infrastruktur dan industri. Sebaliknya, enam sektor terkoreksi, dengan sektor barang konsumen primer mengalami penurunan terdalam sebesar 1,43 persen.

Dari sisi transaksi, frekuensi perdagangan mencapai 2,9 juta kali dengan nilai transaksi Rp20,36 triliun. Sebanyak 381 saham melemah, lebih banyak dibandingkan 267 saham menguat, mencerminkan dominasi tekanan jual di pasar.

Sementara itu, bursa saham Asia bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah, seiring investor global menakar risiko geopolitik dan potensi gangguan rantai pasok energi dunia.(ant/ris/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 20 Februari 2026
27o
Kurs