Kedua indikator tersebut dinilai akan memberikan gambaran mengenai laju pemulihan ekonomi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Di dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati rilis data cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada Selasa (7/7/2026).
Data tersebut dinilai penting karena mencerminkan kemampuan Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memenuhi kebutuhan pembiayaan impor dan pembayaran utang luar negeri.
“Data itu menjadi perhatian pelaku pasar karena akan memberikan gambaran ketahanan dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, dan kemampuan membiayai kebutuhan impor dan membayar utang luar negeri,” kata Nico.
Menurutnya, pasar masih mewaspadai potensi penurunan cadangan devisa setelah posisi akhir Mei 2026 tercatat sebesar 144,9 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan akhir April 2026 yang mencapai 146,2 miliar dolar AS.

NOW ON AIR SSFM 100

