Menurut Eko, keputusan mempertahankan BI-Rate memberi sinyal positif agar bunga kredit tetap lebih terjangkau bagi sektor perumahan dan UMKM.
“Hal itu memberikan optimisme, memberikan arah yang lebih agar bunga lebih terjangkau untuk sektor perumahan, terus kemudian juga UMKM,” ujarnya.
Sebelumnya, Destry Damayanti Gubernur Bank Indonesia memandang tingkat BI-Rate yang saat ini berada di level 5,75 persen masih cukup untuk mendukung dan menjaga stabilitas di tengah era suku bunga global yang tinggi atau higher for longer.
Destry mengatakan ekonomi domestik saat ini terus bergerak ke arah yang lebih baik. Karena itu, BI turut mendukung arah tersebut melalui kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, serta kebijakan pendukung lain seperti pendalaman pasar keuangan, kebijakan UMKM, dan kebijakan regional.
Sementara itu, Aida S Budiman Deputi Gubernur Senior BI menambahkan, bank sentral memilih tidak menaikkan BI-Rate karena dapat berdampak pada kenaikan harga-harga di dalam negeri.
Secara keseluruhan, meski terjadi kenaikan harga minyak global, BI menilai fundamental ekonomi domestik masih cukup baik karena ditopang permintaan, konsumsi domestik, serta investasi. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9 sampai 5,7 persen. (ant/bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

