Inovasi pertanian berkelanjutan yang dikembangkan Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Fuel Terminal (FT) Tuban membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah limbah pertanian menjadi sumber pendapatan.
Melalui program Kang Ebit: SIMPEL (Sistem Pertanian Terintegrasi Pengelolaan Limbah) di Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, omzet petani meningkat 76 persen dan ratusan ton limbah pertanian berhasil diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Program ini mengintegrasikan pengelolaan air untuk pertanian dengan pemanfaatan limbah melalui pendekatan ekonomi sirkular.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengoptimalkan dua sumur bor yang sebelumnya terbengkalai menggunakan teknologi irigasi tetes, irigasi komunal, dan sistem fertigasi.
Penerapan teknologi tersebut memberikan dampak langsung bagi 25 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Boro Tani Makmur.
Mereka mengelola lahan seluas 3,5 hektare dengan frekuensi panen yang meningkat dari sebelumnya 1–2 kali menjadi 3–4 kali dalam setahun.

Peningkatan produktivitas tersebut turut mendongkrak omzet petani sebesar 76 persen, dari rata-rata Rp850 ribu menjadi Rp1,5 juta per bulan.
Optimalisasi sumber air dan penerapan sistem pertanian yang lebih efisien menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan usaha tani masyarakat setempat.
Tak hanya meningkatkan hasil pertanian, Kang Ebit: SIMPEL juga mendorong pemanfaatan limbah agar tidak berakhir sebagai sampah yang berpotensi mencemari lingkungan.
Hingga saat ini, program tersebut telah mengolah 205 ton limbah pertanian menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Melalui teknologi pembakaran tertutup dengan sistem kondensasi, limbah pertanian diolah menjadi asap cair yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida organik serta biochar untuk pupuk organik.
Pengolahan ini berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 44,3 ton karbon dioksida ekuivalen (CO₂e) per tahun.

Limbah pertanian juga dimanfaatkan sebagai bahan baku briket. Proses produksinya didukung Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk meningkatkan pemanfaatan energi bersih.
Penggunaan energi tersebut mampu menekan emisi sebesar 5,9 ton CO₂e per tahun sekaligus menghemat biaya listrik hingga Rp6,8 juta per tahun.
Dari sisi ekonomi, produksi briket menunjukkan perkembangan signifikan. Omzet yang sebelumnya tercatat Rp336 juta pada 2025 meningkat menjadi Rp720 juta per tahun pada 2026, atau naik sekitar 114 persen.
Capaian ini memperlihatkan potensi pengolahan limbah pertanian sebagai kegiatan produktif yang dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat desa.
Anthon Tri Laksono Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Kabupaten Tuban mengapresiasi pelaksanaan Kang Ebit: SIMPEL karena mampu menghubungkan pertanian berkelanjutan dengan ekonomi sirkular.

Menurut dia, pendekatan tersebut tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi limbah, tetapi juga membantu mengurangi risiko pencemaran lingkungan.
“Program ini menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Pemanfaatan limbah pertanian tidak hanya menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi juga mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan,” ujar Anthon.
Aan Nurochman Fuel Terminal Manager Tuban mengatakan program tersebut dikembangkan untuk menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi lokal.
Integrasi pertanian produktif dan pengolahan limbah diharapkan dapat memperkuat perekonomian petani serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
“Integrasi pertanian produktif dan pengolahan limbah diharapkan meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih,” ujar Aan.

Manfaat program juga dirasakan masyarakat Desa Kapu. Ibnu Fajar, generasi penerus local hero program, mengatakan inovasi tersebut membantu meningkatkan produktivitas pertanian dan membuka peluang pemanfaatan limbah panen yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi.
“Melalui program Kang Ebit: SIMPEL, kami merasakan manfaat nyata bagi masyarakat. Produktivitas pertanian meningkat, sementara limbah hasil panen yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini memiliki nilai ekonomi. Kami berharap program ini terus berkembang sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong potensi Desa Kapu agar semakin dikenal luas,” ujar Ibnu.
Ahad Rahedi Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menambahkan, Kang Ebit: SIMPEL merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan melalui pemberdayaan masyarakat.
Program ini mengedepankan inovasi yang memanfaatkan potensi lokal untuk menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Melalui Kang Ebit: SIMPEL, kami berkomitmen mendorong kemandirian masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” kata Ahad. (adv/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

