Jumat, 20 Februari 2026

Mendag Klaim Kebijakan Impor AS Tarif Nol Persen Tidak Ganggu Industri Nasional

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
kebun-kedelai Seorang petani merawat tanaman kacang kedelai di lahan pertanian Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (23/7/2020). Foto: Antara

Budi Santoso Menteri Perdagangan menepis kekhawatiran bahwa kebijakan tarif impor 0 persen untuk produk pertanian asal Amerika Serikat akan menekan industri nasional. Menurutnya, kebijakan tersebut justru menjadi instrumen strategis untuk menjaga keberlangsungan industri dalam negeri dan menahan laju kenaikan harga pangan.

Budi menegaskan, komoditas yang mendapatkan fasilitas tarif nol seperti kedelai, gandum, dan kapas, merupakan bahan baku vital yang hingga kini belum mampu diproduksi secara memadai di dalam negeri. Industri nasional, khususnya sektor makanan dan minuman, sangat bergantung pada pasokan impor tersebut.

“Itu kan kebanyakan memang kita butuhkan karena bahan baku. Kedelai kita juga butuh, kita impor terbesar dari Amerika. Kalau kita nggak mempermudah itu, justru menyusahkan industri kita. Gandum juga kita butuh banyak,” katanya saat dilansir dari Antara, pada Jumat (20/2/2026).

Menurut Mendag, penghapusan tarif impor itu dirancang untuk menekan biaya produksi industri, sehingga produk akhir bisa dijual dengan harga lebih terjangkau kepada masyarakat. Ia menilai, jika bahan baku diperoleh dengan harga mahal, dampaknya akan langsung terasa pada lonjakan harga pangan.

“Caranya untuk murah dipermudah, biar kita nggak belinya mahal. Nah kalau kita beli mahal nanti harga makanan mahal juga,” jelasnya.

Budi menambahkan, kebijakan tarif 0 persen merupakan langkah rasional pemerintah dalam menjaga pasokan bahan baku, stabilitas harga, dan daya saing industri nasional, bukan membuka keran impor secara serampangan.

Kebijakan itu merupakan bagian dari kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang memberikan fasilitas tarif 0 persen untuk sejumlah komoditas pertanian strategis, termasuk kedelai dan gandum.

Sejalan dengan itu, Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan bahwa perjanjian ini diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat. Produk turunan berbasis kedelai dan gandum seperti tahu, tempe, dan mi instan dipastikan tidak akan terbebani kenaikan biaya tambahan.

Pemerintah menilai, dampak utama dari kebijakan tarif nol ini adalah stabilitas harga pangan pokok berbasis impor, mengingat produksi kedelai domestik masih belum mencukupi kebutuhan industri makanan nasional.(ant/ris/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Jumat, 20 Februari 2026
27o
Kurs