Kementerian Perdagangan mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 dipicu tingginya harga minyak dunia. Kondisi itu membuat defisit sektor minyak dan gas bumi atau migas membengkak.
Meski begitu, Budi Santoso Menteri Perdagangan (Mendag) optimistis defisit tersebut hanya bersifat sementara. Ia berharap neraca perdagangan Indonesia kembali membaik pada bulan berikutnya seiring mulai meredanya harga minyak dunia.
“Jadi sebenarnya karena faktor harga minyak yang sangat tinggi. Mudah-mudahan bulan depan sudah normal lagi ya. Mudah-mudahan karena harga minyak kan sudah mulai agak,” ujar Budi di Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Budi menjelaskan, sektor nonmigas sebenarnya masih mencatat kinerja positif dengan surplus 2,15 miliar dolar AS (sekitar Rp38,98 triliun). Namun, surplus tersebut belum mampu menutup defisit perdagangan migas yang mencapai 3,76 miliar dolar AS (sekitar Rp68,16 triliun).
“Karena nonmigas kita kan surplus, surplus US$2,15 miliar, tapi defisit migas kita cukup tinggi, US$3,76 miliar. Mudah-mudahan bulan depan sudah normal lagi. Mudah-mudahan karena harga minyak kan sudah mulai agak turun,” katanya.
Menurut Budi, defisit pada Mei tidak mengubah tren positif perdagangan Indonesia secara keseluruhan. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih mencatat surplus 4,01 miliar dolar AS (sekitar Rp72,69 triliun).
Ia juga menyebut kinerja perdagangan selama lima bulan pertama tahun ini masih tumbuh positif, sehingga pemerintah tetap optimistis terhadap prospek ekspor nasional.
“Kalau Januari secara kumulatif Januari–Mei kan tetap naik, naik 3,9 persen. Kita tetap surplus US$4,01 miliar. Jadi hanya bulan Mei saja, tapi Januari–Mei secara kumulatif tetap surplus,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit 1,61 miliar dolar AS (sekitar Rp29,19 triliun) pada Mei 2026. Defisit itu menjadi yang pertama dalam enam tahun terakhir.
Ateng Hartono Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS mengatakan, defisit tersebut terutama disebabkan oleh komoditas migas, khususnya hasil minyak dan minyak mentah.
“Mei tahun 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar 1,61 miliar Dollar AS atau minus 1,61 miliar Dollar AS. Nah, defisit pada bulan Mei tahun 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas, sebesar defisitnya minus 3,76 miliar Dollar AS. Penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan juga dari minyak mentah,” kata Ateng di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
BPS mencatat nilai impor Indonesia pada Mei 2026 lebih tinggi dibandingkan ekspor. Total impor mencapai 24,81 miliar dolar AS (sekitar Rp449,76 triliun), sementara ekspor tercatat 23,20 miliar dolar AS (sekitar Rp420,57 triliun).
“Pada bulan Mei tahun 2026 total nilai impor mencapai 24,81 miliar Dollar AS, atau meningkat 22,16 persen jika dibandingkan dengan Mei tahun 2025 yang lalu. Nilai impor migas 4,51 miliar Dollar AS, meningkat 70,78 secara tahunannya. Impor non migas senilai 20,30 miliar Dollar AS mengalami peningkatan secara tahunannya sebanyak 14,89 persen,” ujarnya.
Jika dikonversi ke rupiah, nilai impor migas pada Mei 2026 sebesar 4,51 miliar dolar AS setara sekitar Rp81,76 triliun. Sementara impor nonmigas 20,30 miliar dolar AS (sekitar Rp368,00 triliun).
Ateng menegaskan, defisit pada Mei 2026 terutama didorong oleh neraca perdagangan migas yang tercatat minus 3,76 miliar dolar AS (sekitar Rp68,16 triliun).
“Untuk neraca perdagangan di bulan Mei tahun 2026 ini mengalami defisit didorong. Kalau kami amati ya oleh defisit neraca perdagangan migas itu sampai defisitnya mencapai 3,76 miliar Dollar AS,” ujarnya.
Meski Mei mencatat defisit, kinerja ekspor secara kumulatif masih tumbuh. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, total nilai ekspor Indonesia mencapai 115,36 miliar dolar AS (sekitar Rp2.091,25 triliun), naik 3,02 persen secara tahunan.
Nilai ekspor migas tercatat 5,17 miliar dolar AS (sekitar Rp93,72 triliun). Sementara ekspor nonmigas mencapai 110,19 miliar dolar AS (sekitar Rp1.997,52 triliun). Menurut Ateng, peningkatan ekspor nonmigas secara kumulatif terutama ditopang sektor industri pengolahan.
“Nah, kalau kita lihat menurut sektornya peningkatan nilai ekspor non-migas secara kumulatif tersebut ini didorong oleh sektor industri pengolahan. Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama peningkatan kinerja ekspor non-migas sepanjang Januari sampai dengan Mei tahun 2026. Nah andil industri pengolahan ini terhadap peningkatan ekspor sebesar 5,38 persen,” pungkasnya. (lea/bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

