Pada Rabu (7/10/2026) kemarin, Rupiah bergerak sideways dan mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan mayoritas mata uang Asia.
“Sebagian besar mata uang regional melemah seiring meningkatnya tensi di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak,” kata Josua.
The Fed juga merilis notulen Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026, yang menunjukkan bahwa seluruh 19 anggota voting mendukung kenaikan policy rate.
“Mayoritas anggota juga mendukung kenaikan suku bunga kembali sebelum akhir tahun, terutama karena tekanan inflasi yang persisten dan masih sticky,” ujar dia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS.(ant/kir/ipg)
Halaman:Sebelumnya 1 2Tampilkan Semua
NOW ON AIR SSFM 100

