Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada penutupan perdagangan Senin (28/9/2026), turun 75 poin atau 0,42 persen menjadi Rp17.978 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.903 per dolar AS.
Ibrahim Assuabi analis mata uang mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
“Situasi Selat Hormuz memanas, setelah delapan anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS) terluka setelah sebuah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz,” kata Ibrahim dilansir dari Antara.
Menurut Ibrahim, ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar karena Iran masih mempertahankan sejumlah syarat untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Iran mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari dengan syarat Washington mencabut blokade angkatan laut, melonggarkan tekanan militer, menghapus sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta menyetujui gencatan senjata.
Ibrahim menyebut, Iran tetap mempertahankan persyaratan tersebut meskipun Presiden AS Donald Trump menolaknya.
Selain perkembangan geopolitik, pasar valuta asing juga mencermati sejumlah agenda ekonomi AS yang akan dirilis sepanjang pekan ini.
Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan dirilis pada Rabu (30/9/2026).
Selanjutnya, data ISM Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) akan diumumkan Kamis (1/10/2026), disusul laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat (2/10/2026).
“Rilis data-data tersebut dapat memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan,” ujar Ibrahim.
Di pasar domestik, pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Senin, JISDOR berada di level Rp17.965 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya Rp17.917 per dolar AS. (ant/fia/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

