Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat (13/2/2026), bergerak menguat 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.826 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.828 per dolar AS.
Josua Pardede Kepala Ekonom Permata Bank menilai bahwa meski menguat tipis, kurs rupiah dibayangi sikap pasar yang menanti rilis laporan inflasi AS.
“Fokus pasar kini beralih pada laporan inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen) Januari 2026 yang akan dirilis malam ini untuk memperoleh gambaran lebih lanjut mengenai dinamika inflasi AS, di tengah perbedaan ekspektasi terkait waktu potensi pemangkasan suku bunga The Fed,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Lebih lanjut, melansir Antara, pelaku pasar memperkirakan bahwa data IHK dapat menunjukkan moderasi inflasi, yang berpotensi membuka ruang bagi The Fed untuk melanjutkan pemangkasan suku bunga kebijakan setelah menahan suku bunga pada rapat pertama tahun ini.
Secara keseluruhan, kata dia, pasar masih mengantisipasi kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026.
Namun demikian, ketidakpastian tetap membayangi terkait potensi penyesuaian neraca The Fed menjelang ekspektasi pengangkatan Kevin Warsh sebagai Chairman pada Mei 2026.
“Meskipun Ketua yang akan datang tersebut sebelumnya dikenal menentang pembelian aset, belakangan ia memberi sinyal keterbukaan untuk berkoordinasi dengan Departemen Keuangan guna membantu meredakan tekanan pada imbal hasil,” ujar Josua.
Sentimen lain juga berasal dari rilis data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan, sehingga mendorong penguatan dolar AS. Non-farm Payrolls (NFP) AS meningkat sebesar 130 ribu pada Januari 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang direvisi turun menjadi 48 ribu, serta melampaui ekspektasi pasar sebesar 70 ribu.
Capaian tersebut dinyatakan sebagai kenaikan bulanan terkuat dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Sementara itu, ujar Josua, tingkat pengangguran AS secara tak terduga turun menjadi 4,3 persen dari sebelumnya 4,4 persen, mengindikasikan tanda awal stabilisasi pasar tenaga kerja pada 2026.
“Merespons perkembangan tersebut, pelaku pasar menggeser ekspektasi waktu pemangkasan suku bunga The Fed berikutnya menjadi Juli 2026, dari sebelumnya diperkirakan pada Juni 2026,” kata dia.
Melihat sentimen domestik, tekanan terhadap rupiah berasal dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), seiring investor asing yang masih membukukan arus keluar bersih.
Hal ini mencerminkan sikap hati-hati investor offshore terhadap pasar ekuitas Indonesia di tengah ketidakpastian terkait potensi risiko penurunan peringkat oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International). Berdasarkan faktor-faktor itu, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.775–Rp16.900 per dolar AS. (ant/bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
