Sementara itu, perusahaan besar memiliki pertimbangan yang berbeda dalam mengembangkan bisnis. Perusahaan dalam kelompok ini lebih banyak mempertimbangkan kolaborasi dan investasi internasional serta perkembangan pasar global.
Di sisi lain, ketidakpastian arah kebijakan ekonomi masih menjadi sumber risiko bagi dunia usaha. Sebanyak 33,7 persen responden menilai ketidakpastian kebijakan ekonomi pemerintah turut menentukan risiko kebijakan yang akan dihadapi perusahaan.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah pelemahan permintaan domestik dan stabilitas nilai tukar rupiah. Kondisi rupiah dinilai berpengaruh terhadap kepercayaan pelaku usaha maupun pelanggan.
“Pelemahan nilai tukar rupiah masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha. Sebanyak 35 persen responden menilai depresiasi rupiah berdampak agak negatif terhadap bisnis, sementara 30 persen menilainya negatif,” ujar Fakhrul.
Tekanan terhadap dunia usaha juga berbeda berdasarkan skala perusahaan. Bagi perusahaan mikro, akses pembiayaan menjadi persoalan utama dengan porsi 23,9 persen.
NOW ON AIR SSFM 100

