Sabtu, 4 Desember 2021

Cara Memaksimalkan Monetisasi Iklan Bagi Konten Kreator di Berbagai Platform

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Ilustrasi media sosial. Foto: Shutterstock

Monetize atau proses mengubah sesuatu agar bisa menjadi penghasilan menjadi hal yang masih terus digali oleh para konten kreator, pasalnya ketika mereka sudah mulai membuat konten di berbagai platform media monetisasi adalah keuntungan yang akan mereka dapatkan.

Ilona Juwita selaku Country Director Indonesia dan perwakilan ProPs Google Partner, menjelaskan ada tiga matriks yang perlu dipahami oleh para konten kreator untuk memaksimalkan monetisasi.

“Yang pertama saat kita membuat konten di media sosial atau website kita sendiri, yang harus kita pikirkan yaitu distribusi kontennya, langkah ini disebut sebagai reach yang mana seberapa banyak audience melihat konten kita,” kata Ilona saat dihubungi Suara Surabaya pada Rabu (6/10/2021).

“Semakin banyak pengunjung di konten kita maka bisa berpotensi iklan yang akan masuk ke channel kita,” ujarnya.

Selain itu media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Youtube media tersebut sudah memiliki network advertising masing-masing.

“Jadi berbagai platform sudah memiliki network advertising sendiri, tinggal bagaimana kita memaksimalkan dalam membuat konten,” katanya.

Matriks kedua yang disebut oleh Ilona adalah reach impression seberapa banyak iklan yang bisa muncul dalam konten kita, bahasa impresion ini ditandai sebagai matriks bagi para advertising.

“Untuk mekanisme matriks yang paling sederhana ini, impression difungsikan untuk melakukan pembelian bagi para advertising kepada laman konten kita,” jelas Ilona.

Ilona mengatakan jika para advertising ingin mengreach lebih banyak impression dari para konten kreator, makahalitu akan diukur melalui konten pada media masing-masing untuk dilihat seberapa banyak impression yang mereka punya.

Pada matriks yang ketiga yaitu engagement, pengiklan akan membayar harga lebih tinggi ketika iklan mendapat engagement.

“Namun juga ada beberapa dari para advertising jika iklannya hanya dilihat saja mereka tidak mau bayar, mereka baru mau bayar kalau iklannya ada engagement.”

Untuk itu menurut Ilona yang harus kita perhatikan dalam konteks ini adalah bagaimana kita mengidentifikasi dan memastikan bahwa konten kita dikonsumsi secara baik oleh audience.

Sehingga saat audience merasa tertarik dengan konten kita mereka akan bisa bertahan hingga akhir dari video kita, dan menjadi kesempatan bagi pengiklan.

Saat ditanya mengenai konten apa saja yang paling laku di Indonesia, Ilona mengatakan bahwa konten yang cukup santai dan dibuat oleh publik figur adalah konten yang sering dikonsumsi oleh masyarakat.

Sedangkan untuk konten yang bernuansa edukatif dan serius cukup susah untuk laku, karena hal itu turut dipengaruhi oleh pengiklan, dalam segi reaching, impression, dan engagement.

Namun Ilona tetap mengatakan bagi para calon konten kreator untuk tetap membuat sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita.

“Buatlah yang kita sendiri enjoy dan do what you love, asalkan kita tahu harus diarahkan kemana dan market-nya,” jelas Ilona.(wld/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Sabtu, 4 Desember 2021
30o
Kurs