Kamis, 26 Mei 2022

Usai Operasi Pertama, Pasien Wajah Sumbing Asal Lumajang Lebih Percaya Diri

Laporan oleh Sentral FM Lumajang
Bagikan

Tutik Handayani, 16 tahun, penderita penyakit langka facial cleft atau wajah sumbing kembali ke rumahnya di Desa Uranggantung, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang setelah menjalani operasi tahap pertama di Rumah Sakit Unair Surabaya.

Ditemui Sentral FM di rumahnya, Jumat (26/8/2016), Tutik Handayani terlihat beristirahat di kamarnya yang terletak di bagian depan. Remaja ini tidur dengan posisi miring. Sedangkan, Fatmawati, ibunya, bersama anak angkatnya yang bungsu, ditemani Maisah, nenek angkat Tutik, duduk santai di ruang tamu beralaskan karpet warna hijau.

Menurut Fatmawati, setelah menjalani operasi tahap pertama yang berlangsung selama 5 jam, harapan dan semangat hidup Tutik Handayani semakin tinggi. Terutama semangatnya untuk kembali belajar. Fatmawati menambahkan, meskipun Tutik tidak bisa melihat hingga tidak tahu ekspresi orang yang melihat wajahnya, tapi Tutik bisa merasakannya.

“Dulu, sebelum operasi, anak kecil pasti takut dan menangis melihat wajah Tutik. Makanya, selama itu ia tidak pernah keluar rumah. Karena anak-anak tetangga kalau melihat wajahnya, pasti ketakutan dan menangis. Dan kalau ada tamu membawa anak kecil, ia saya minta masuk ke kamar. Namun kalau adik angkatnya yang berusia 3 tahunan ini, tidak takut karena sudah biasa,” katanya.

Fatmawati mengaku dirinya merasa sudah terlalu lama meninggalkan Tutik sendirian dirawat neneknya, karena harus merantau bertahun-tahun menjadi TKI di Arab Saudi untuk membiayai keluarganya. “Tutik saya tinggalkan persis di usia setahun. Dan saya sendiri baru pulang tahun 2009. Sejak saat itu, saya terus berdoa, semoga ada bantuan untuk mengobatkan anak saya ini. Ternyata doa itu terwujud,” ujarnya.

Fatmawati sangat berharap, dengan semakin membaiknya wajah Tutik menjadikan masa depannya lebih baik lagi. Bahkan, anaknya meskipun tidak bisa melihat, namun bisa membaca dan mengaji seperti lainnya. “Kalau mengaji, ia bisa tapi haafalan. Seperti surat Al Fatihah yang saya ajarkan sendiri. Sholat anak saya juga rutin melaksanakannya,” ujarnya.

Tutik masih diwajibkan untuk kontrol sepekan sekali ke RS Unair Surabaya, Kamis (1/9/2016), untuk pemeriksaan dan melepas benang operasi di wajahnya.

“Operasi tahap keduanya, diperkirakan 2 sampai 3 bulan depan. Keseluruhan tahapan operasinya, antara 3 sampai 5 tahap. Tapi karena Tutik tidak memerlukan pemasangan bola mata palsu, hingga dimungkinkan operasinya 3 tahap,” kata Ali Muslimin Ketua Paguyuban Penyandang Difabel Indonesia (PPDI) Kabupaten Lumajang yang selama ini memfasilitasi Tutik menjalani pemeriksaan hingga operasi.

Dia juga menjelaskan perjalanan panjang Tutik hingga bisa menjalani operasi yang telah dipersiapkan sejak 2013 lalu. Saat itu, PPDI Kabupaten Lumajang mendapatkan informasi adanya penderita facial cleft berusia remaja di Desa Uranggantung dari relawan. “Berbekal informasi itu, akhirnya kami datangi keluarganya dan menyampaikan niat untuk membantu,” ujarnya.

Selanjutnya, Tutik dibawa periksa ke dokter mata di Surabaya untuk konsultasi awal. Sampai akhirnya direkomendasikan ke RS Unair Surabaya. Seluruh pemeriksaan hingga operasinya ditanggung BPJS sehingga gratis.(her/iss)

Teks Foto :
-. Tutik Handayani di rumahnya sepulang dari operasi di RS Unair.
Foto : Sentral FM.

Berita Terkait

Surabaya
Kamis, 26 Mei 2022
26o
Kurs