Senin, 6 April 2020

Pemkot Malang Kaji Pembangunan Jalan Bawah Tanah

Laporan oleh Desy Kurnia
Bagikan

Pemerintah Kota Malang, Jatim, mulai mengkaji rencana pembangunan jalan bawah tanah untuk mengurai kemacetan arus lalu lintas dan banjir yang seringkali terjadi di daerah itu ketika musim hujan.

“Kami masih belum bisa menjelaskannya secara rinci dan detail terkait pembangunan jalan bawah tanah ini karena saat ini masih dilakukan studi kelayakan dan dikaji oleh tim dari Universitas Brawijaya (UB),” kata Moch Anton, Wali Kota Malang, Selasa (8/4/2014).

Secara garis besar, katanya, pembangunan jalan bawah tanah itu akan mengambil titik di Jalan Ahmad Yani hingga Jalan S Parman sepanjang 700 meter yang menjadi pintu gerbang masuk Kota Malang dari arah utara. Apalagi jalan protokol tersebut juga menjadi salah satu titik kemacetan di kota itu.

Menurut Anton, pembangunan jalan bawah tanah tersebut akan direalisasikan pada 2015. Jika pembangunan jalan bawah tanah terealisasi, langkah itu menjadi yang pertama di Jawa Timur, bahkan sampai sekarang wilayah yang sudah memiliki jalan bawah tanah baru Jakarta dan Bali.

Ia menilai kontur tanah di Kota Malang cocok untuk pembangunan jalan bawah tanah daripada membangun jembatan layang. Untuk pembangunan jalan bawah tanah tersebut, pemkot akan mengucurkan anggaran sebesar Rp 40 miliar.

Hanya saja, lanjutnya, sebelum merealisasikan pembangunan jalan bawah tanah tersebut, Pemkot Malang akan melakukan studi banding ke Malaysia.

“Kalau membangun jalan layang kurang elok karena dapat merusak keindahan kota. Pembangunan jalan bawah tanah ini nanti sekaligus untuk mengurangi banjir yang selalu datang ketika musim hujan,” ujarnya pada Antara.

Sementara itu, Wahyu Setianto, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang mengaku pembangunan jalan bawah tanah cukup efektif mengurangi kemacetan, apalagi pengguna kendaraan di kota itu setiap tahun terus bertambah cukup signifikan.

Berdasarkan catatan di Polres Kota Malang, tahun 2009 hingga 2013, jumlah sepeda motor di Kota Malang mencapai 185 ribu unit. Sedangkan mobil mencapai 30 ribu lebih,

“Pertumbuhan kendaraan bermotor di Kota Malang rata-rata mencapai 8 persen per tahun, sehingga kami kesulitan mencari solusi untuk mengurai kemacetan. Jalan bawah tanah nanti menjadi harapan untuk mengurangi macet di daerah ini,” katanya. (ant/ain/rst)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Korban Rumah Roboh di Ketintang

Trailler Tabrak Pembatas Jalan di Tol

Mobil Terbakar di Karah Indah 1

Surabaya
Senin, 6 April 2020
31o
Kurs