Kamis, 13 Agustus 2020

Populasi Badak Jawa dan Sumatera Kritis

Laporan oleh Dodi Pradipta
Bagikan

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mengungkapkan populasi badak Jawa maupun badak Sumatera dalam keadaan kritis.

Tachrir Fathoni Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di Jakarta, Kamis (7/5/2015) menyatakan, populasi badak Sumatera dalam 10 tahun terakhir menurun 50 persen, dari sekitar 160 ekor kini hanya 80.

“Menurunnya jumlah populasi itu dipicu perburuan dan perdagangan khususnya cula, tulang, dan kulit,” katanya seperti dilansir Antara.

Menurut dia, saat ini populasi badak Sumatera ada di empat titik, yakni Way Kambas, Bukit Barisan Selatan, Gunung Leuser, dan Kutai Barat.

Sebelumnya dalam Lokakarya Pengembangan Rencana Implementasi Konservasi Harimau dan Badak Sumatera, dia mengatakan, Indonesia memiliki dua dari lima jenis badak di dunia, yaitu badak Jawa dan badak Sumatera yang mana saat ini, badak jawa hanya ada di Indonesia.

Ia melanjutkan data terakhir 2015 mencatat badak Jawa mencapai 57 ekor, atau meningkat dua kali lipat dari 25 ekor pada 1980.

“Namun, ini tetap mengkhawatirkan sebab badak Jawa hanya ada di satu populasi, yakni Semenanjung Ujung Kulon. Ada kekhawatiran terjadi penurunan kualitas genetik,” katanya.

Dia menyatakan, kedua spesies badak ini pernah menjelajahi seluruh kawasan Asia Tenggara, tapi, akhir-akhir ini dilaporkan bahwa Malaysia dan Vietnam telah kehilangan kedua spesies di negara mereka atau punah.

Terkait dengan itu, Fatoni mengungkapkan, strategi konsevasi badak di Indonesia mengutamakan terciptanya kondisi yang mendukung bagi kehidupan jangka panjang populasi badak Jawa dan badak Sumatera yang tersisa di alam Indonesia.

“Penyelamatan badan di Indonesia menuntut keterlibatan kita semua tidak hanya pemerintah namun juga swasta, LSM dan masyarakat seluruhnya,” katanya.

Untuk itu, tahun ini pemerintah menetapkan target 100 unit Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) bisa difungsikan maksimal, karena dari 522 tempat konservasi seperti cagar alam dan taman nasional, hanya 50 unit yang terkelola sisanya tak terurus.

“Nantinya, tak hanya badak sumatra dan badak jawa, harimau sumatra serta satwa lain juga jadi perhatian kami,” katanya. (ant/dop/wak)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Pelangi Sore Hari di Surabaya

Kangen Tanggapan

Unjuk Rasa Aliansi Pekerja Seni Surabaya

Truk Patah As di Gedangan

Surabaya
Kamis, 13 Agustus 2020
33o
Kurs