Minggu, 29 Maret 2020

Banjir Mulai Surut, BNPB Catat 69 Meninggal di Sulsel

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi, wilayah Tilongkabila di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, saat dilanda banjir pekan lalu. Foto: Antara

Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, hingga Senin (28/1/2019) tercatat 69 orang meninggal dunia akibat banjir, longsor, dan puting beliung di Sulawesi Selatan.

“Selain itu, tujuh orang hilang, 48 orang luka-luka dan 9.429 orang mengungsi,” kata Sutopo melalui pesan tertulis yang diterima di Jakarta, dilansir Antara Senin (28/1/2019).

Sutopo mengatakan, banjir, longsor dan puting beliung terjadi di 21 desa di 78 kecamatan yang tersebar di Kota Makassar, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Maros, Kabupaten Gowa, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Wajo, Kabupaten Barru, Kabupaten Pangkep, Kabupaten Sidrap, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Takalar, Kabupaten Selayar, dan Kabupaten Sinjai.

Bencana menyebabkan 559 rumah rusak, meliputi 33 hanyut, 459 rusak berat, 37 rusak sedang, 25 rusak ringan dan 5 tertimbun, 22.156 rumah terendam; 15,8 km jalan terdampak, 13.808 hektare sawah terdampak serta 34 jembatan, dua pasar, 12 fasilitas peribadatan, delapan Fasilitas pemerintah, dan 65 sekolah rusak.

“Guna mempermudah dan mempercepat penanganan bencana Gubernur Sulsel telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari,” jelas Sutopo.

Masa tanggap darurat dimulai sejak Rabu (23/1/2019) hingga Rabu (6/2/2019) yang dapat diperpanjang berdasarkan kondisi di lapangan.

“Penetapan status darurat oleh Gubernur untuk mempermudah akses, baik penggunaan anggaran dari alokasi belanja tak terduga di APBD dan penggunaan dana siap pakai di BNPB,” katanya.

Status tanggap darurat juga untuk mempermudah akses pengerahan personel, logistik, peralatan, pengadaan barang dan jasa, serta adminsitrasi.

“Intinya, agar penanganan dampak bencana dapat dilakukan cepat, tepat dan akurat,” ujarnya.

Sutopo juga mengatakan, sebagian besar banjir yang melanda Sulawesi Selatan sudah surut di beberapa daerah.

“Sebagian pengungsi sudah pulang ke rumahnya, tetapi sebagian masih tetap di pengungsian,” terangnya.

Ada beberapa masyarakat yang masih berada di pengungsian, hal ini karena rumahnya rusak berat sehingga merasa lebih nyaman di pengungsian, selain karena takut terjadi banjir atau longsor susulan. (ant/wil)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Penyemprotan Disinfektan di A.Yani

Truk Terguling di Karang Pilang

Biasanya Berjubel, Kini Sunyi

Social Distancing, Ciputra World Sepi

Surabaya
Minggu, 29 Maret 2020
26o
Kurs