Selasa, 16 Agustus 2022

Pengusaha Roti Klaim Omzet Turun Setelah Isu Telur Mengandung Dioksin

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
M.H. Soleh Ketua Umum Himpunan Pengusaha Bakery Indonesia saat menggelar konferensi pers. Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Himpunan Pengusaha Bakery Indonesia (HIPBI) mengklaim omzet penjualan roti mereka menurun setelah adanya isu telur mengandung dioksin di Desa Bangun, Kabupaten Mojokerto dan Desa Tropodo, Kabupaten Sidoarjo.

M.H. Soleh Ketua Umum HIPBI mengklaim, penurunan omzet penjualan roti per hari bisa mencapai 20-40 persen. Penurunan ini terjadi di beberapa pengusaha asal Surabaya dan Bandung.

“Ibarat kata, kalau saya pribadi, sehari kita jual 800-900 pcs sehari, dengan ada isu ini daripada kita sisanya banyak, produksi kita cuman 600. Sebentar lagi kan ada tahun baru, natal, nah itu kan, jangan sampe masyarakat ini resah,” ujar Soleh dalam konferensi pers HIPBI yang digelar di Surabaya pada Sabtu (23/11/2019).

Ia menegaskan, produk roti dari pengusaha yang tergabung dalam HIPBI sepenuhnya aman. Soleh mengaku, himpunan pengusaha ini menaungi sekitar 50 pengusaha roti dari wilayah Jawa Timur dan Bandung.

Ia berharap, masyarakat tidak memukul rata semua telur mengandung dioksin. Seperti diketahui, telur menjadi salah satu bahan utama pembuatan roti.

“Ini yang merugikan ini kan, pukul rata informasi yang tidak detail ini, sehingga orang sudah antipati. Oh ya ini (roti, red) bahan dasarnya telur, kemungkiman ada dioksin,” jelasnya.

Ia berharap, LSM lingkungan yang merilis penelitian ini untuk memberikan penjelasan lebih detail ke masyarakat mengenai hasil penelitiannya. Ia tidak ingin masyarakat resah terhadap hasil penelitian ini.

Sebelumnya, Prigi Arisandi Direktur Ecoton, salah satu LSM yang ikut merilis hasil penelitian menegaskan, penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa ada persoalan lingkungan di dua desa Jawa Timur yang tercemar akibat sampah plastik impor. Bukan untuk menggeneralisasi semua telur di Jatim mengandung dioksin.

“Dioksin ini menjadi indikator, ada bagian dari Jawa Timur yang rusak karena pembakaran plastik yang sudah berlangsung puluhan tahun. Tidak ada hubungannya dengan ayam broiler yang dikandangkan,” kata Prigi. (bas/dwi)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Selasa, 16 Agustus 2022
26o
Kurs