Sabtu, 28 November 2020
Kisah-Kisah Keluarga Petugas Medis saat Pandemi Covid-19

Bertahan dalam Ketakutan dan Sepi Untuk Sang Buah Hati

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Minggu (21/6/2020) malam, Anggi Widya merasa lega luar biasa. Putri pertamanya lahir sehat di salah satu ruang bersalin Rumah Sakit Unair, Surabaya.

Perasaan yang belum pernah ia rasakan saat menunggu kelahiran anak pertamanya beberapa bulan lalu. Tepatnya saat Covid-19 mewabah di Surabaya.

Suaminya adalah perawat di salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 Surabaya. Sejak April 2020, keadaan berbalik sepenuhnya bagi Anggi. Ia tidak bisa lagi mencium pipi atau sekadar bersalaman saat suaminya pulang kerja.

Bahkan, meski tinggal satu rumah, Anggi merasa mereka seperti dua orang asing.

“Jujur berat. Biasanya dia pulang kerja bersalaman, cium pipi, tiba-tiba itu nggak ada. Kita kayak orang asing. Pulang, saya ada di kamar dan nggak menyambutnya. Saya dikasih tahu suami, kalau dia pulang, sementara tidak ada sambutan,” katanya.

Setiap kali suaminya pulang, dia hanya bisa memandang dari dalam kamar sambil mengelus sang calon buah hati.

“Saya dikamar itu cuman lihat. Ya Allah. Suami saya itu pulang, tapi saya nggak nyambut. Sambil gimana, ya. Saat itu kandungan juga sudah mulai besar, tujuh bulan. Jadi kayak, ya Allah. Sabar ya nak, nggak ketemu ayah. Kamu nggak dielus-elus ayah,” ujar Anggi.

Ketika suaminya mandi dan mencuci semua pakaian yang ia pakai saat bertugas di rumah sakit, Anggi menyiapkan makanan di dapur. Tapi, mereka tidak bisa makan malam bersama.

Bahkan, Anggi bercerita, selama di rumah bersama, mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel. ‘Yah, makanannya sudah siap di dapur, makan ya.’ Begitu isi pesan teks yang ia kirim ke suaminya.

“Di rumah itu, saya tidur di kamar. Suami saya tidur di ruang tamu. Jadi bener-bener jaga jarak. Masing-masing juga pakai masker. Karena takut berdampak buat si kecil. Saya pengen banget ngobrol. Tapi suami saya melarang. Jangan dekat-dekat,” kenangnya.

Saat mengetahui dirinya hamil pada September 2019, Ia tidak pernah sekalipun membayangkan akan menghadapi cobaan ini di bulan-bulan terakhir kehamilannya.

Saat kasus Covid-19 di Surabaya pertama kali muncul pada bulan Maret, ia langsung berdiskusi dengan suaminya. Ia mengaku khawatir. Tapi suami mengingatkan soal komitmennya sebagai petugas medis.

“Dia meyakinkan tidak ada usaha yang sia-sia, apalagi soal kemanusiaan. Suami saya terus meyakinkan. Akhirnya saya sebagai istri, support. Mendukung yang dikerjakan suami. Saya juga sadar suami saya petugas medis dan kerjaannya gitu. Insyaallah dia lebih paham bagaimana menjaga diri agar tidak sampai tertular Covid-19. Saya percaya suami bisa melakukan itu. InsyaAllah kita dilindungi. Modal percaya itu saja yang saya pegang setiap hari,” ujarnya.

Bahkan, di bulan-bulan awal wabah ini merebak di Surabaya, suami Anggi memilih tidak pulang dan tinggal di dormitory yang disediakan rumah sakit tempatnya bekerja. Baru saat usia kehamilannya makin tua, suami Anggi mulai sering pulang.

“Waktu itu penuh menangani pasien. Pernah dua minggu nggak pulang. Baru setelah itu sering pulang. Karena saya mulai merasakan tanda-tanda. Dia khawatir,” katanya.

Selain dengan suami, hubungannya dengan keluarga juga jadi serba susah. Ia sebenarnya ingin didatangi orang tua saat sedang hamil besar. Tapi ia serba bimbang. Selain karena sempat ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai tiga jilid, ia juga khawatir mereka tertular Covid-19 saat di perjalanan.

“Mungkin ini takdir yang harus dijalani,” katanya pendek.

Ia mengaku, sang buah hati adalah alasan terbesarnya bisa bertahan dan melewati berbagai cobaan itu. Setelah pernah hamil dan keguguran, kelahiran anak pertamanya adalah sebuah penantian sejak menikah pada Desember 2018.

“Yang paling menguatkan, si kecil ini. Karena si kecil ini termasuk penantian saya dan suami setelah menikah. Setelah dulu pernah kehilangan anak pertama, hadir dia. Ini menguatkan. Saya harus berjuang, demi anak saya,” kata Anggi.

Anak memang seringkali menjadi alasan terbesar seseorang bertahan dalam situasi sulit. Seperti Anggi yang bertahan dalam kesepian selama hamil di masa pandemi, Maria Ulfa juga menghadapi hal serupa.

Ia adalah Bidan di Unit Pelayanan Maternal Perinatal Covid-19 Rumah Sakit Unair, Surabaya. Sejak Maret 2020, dia langsung “mengungsikan” anak satu-satunya yang berumur 6,5 tahun ke rumah ibunya di Gresik. Ia khawatir, tugas barunya menangani ibu hamil dengan Covid-19 berdampak pada sang buah hati.

“Sengaja saya taruh ke rumah nenek. Sejak Maret saat ada pengumuman kasus Covid-19 itu, sejak ada keputusan sekolah-sekolah diliburkan, saya ungsikan kesana,” katanya.

Maria Ulfa, salah satu bidan di Unit Pelayanan Maternal Perinatal Covid-19 Rumah Sakit Unair, Surabaya Foto: Istimewa

Terhitung, sudah tiga bulan lebih dia sama sekali tidak bertemu dengan anaknya. Ia mengaku sangat rindu pada sang buah hati. Tapi demi kesehatan sang anak, ia memilih memendam rindunya dalam-dalam.

“Saya pulang (ke Gresik) juga khawatir. Meskipun saya juga screening rutin. Pakai APD waktu di rumah sakit. Tapi ya namanya khawatir. Nggak tahu kan. Mungkin barang-barangku, atau apa, menularkan ke mereka,” ujar Maria.

Belum lagi, karena sekarang anaknya tinggal dengan ibunya di Gresik, ia juga ikut mempertimbangkan kesehatan orang tuanya kalau memaksakan diri pulang kesana. Ia bercerita, Ibunya punya penyakit diabetes dan hipertensi.

“Tahun 2007 waktu masih kuliah, saya pernah kehilangan almarhum bapak. Saya eman-eman. Orang tua tinggal satu. Saya ingin menjaga orang-orang yang disayangi,” katanya.

Setiap kali merasa kangen, ia hanya bisa berjumpa lewat video call dengan anaknya. Terkadang, sesekali, Ibunya mengirim foto dan video kegiatan anaknya di Gresik.

Sempat suatu hari, sang anak bertanya kapan ia akan pulang ke Gresik.

“Mama, mama besok nggak pulang ta. Wah rasane ya Allah. Legoku ada yang hilang dua, Ma. Kan sukanya main lego dia,” katanya bercerita.

Selain anaknya, Maria juga terpisah dengan suami tercinta. Bekerja sebagai penyuluh pertanian di Dinas Pertanian Kabupaten Sampang, Madura membuat suami tidak bisa tinggal serumah dengannya di Surabaya.

Sebelum Covid-19, suaminya selalu pulang tiap akhir pekan. Tapi semenjak pandemi sampai sekarang, ia hanya pulang tiga kali.

“Pas PSBB (tiga jilid) kemarin nggak pernah pulang. Khawatir nanti pulang ke Surabaya nggak bisa balik ke Sampang,” katanya.

Menjalani hari dalam pekerjaan yang penuh risiko dan rasa sepi, tentu bukan hal mudah, termasuk bagi Maria. Tapi, setiap kali melihat ibu hamil dengan Covid-19 datang ke rumah sakit, ia selalu terenyuh. Terutama, beberapa dari mereka sudah pernah ditolak dilayani di fasilitas kesehatan (faskes) lain.

“Biasanya datang kan sudah waktunya melahirkan. Mereka kadang sudah ditolak-tolak di berbagai faskes, akhirnya mlayune ke RS Unair. Gak dianter, gak ditelepon. Hanya diarahkan kesini. Padahal disini juga terbatas, dengan banyaknya pasien,” kata Maria.

Menjadi petugas medis, membuat Maria mengalahkan semua perasaan was-was dan kesepian. Ia mengaku, ia dan rekan-rekannya sesama petugas medis saling menguatkan.

“Dengan pandemi ini, kita makin kompak. Ada yang down kita saling jaga, saling mengingatkan,” kata Maria.

Baik Maria ataupun Anggi punya harapan yang sama. Mereka sama-sama ingin pandemi ini segera berlalu. Meski sama-sama tak tahu kapan pandemi akan berakhir, kita sama-sama berharap bisa segera berkumpul dengan keluarga seperti semula. Tanpa ada jarak. Tanpa ada ketakutan. (bas/tin/rst)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Kemacetan di Perak Barat

Kecelakaan di Simpang Empat Mertex Mojokerto

Surabaya
Sabtu, 28 November 2020
26o
Kurs