Minggu, 31 Mei 2020

Diperkirakan Ada 21 Klaster Penularan Covid-19 di Jatim Disertai Transmisi Baru

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
dr Kohar Hari Santoso Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas Covid-19 Jatim. Foto: Dok/Istimewa

Kohar Hari Santoso Ketua Rumpun Tracing (pelacakan) Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur menyatakan, setidaknya sudah ada 21 klaster penularan yang sudah terdeteksi di Jawa Timur.

“Kami sudah mengevaluasi, tapi belum sampai 152 kasus, baru 132 yang teridentifikasi, di Jatim kami perkirakan ada 21 titik episentrum penularan Covid-19,” ujar Kohar Sabtu (4/4/2020).

Klaster Pelatihan Petugas Haji Indonesia

Sejauh ini, klaster terbesar yang sudah terlacak dan terus dipantau tim tracing Gugus Tugas adalah kegiatan pelatihan petugas haji di Asrama Haji Sukolilo Surabaya pada 8-19 Maret lalu.

Dari 413 peserta, sudah ada 19 orang dinyatakan positif Covid-19. Satu di antara pasien dinyatakan meninggal akibat Covid-19 di Kediri, sedangkan satu pasien lain di Kota Blitar dinyatakan sembuh.

Kohar menjelaskan, 413 peserta Pelatihan Petugas Haji Indonesia itu telah menjadi orang dengan risiko tertular karena telah kontak dengan salah seorang narasumber yang menjadi common source.

“Kasus pertama muncul 12 Maret. Ada salah satu narasumber yang sakit. Kemudian jumlahnya (positif Covid-19) meningkat. Puncaknya 19 Maret, sudah tidak nambah lagi yang sakit,” ujar Kohar.

Kohar menegaskan, meski grafik menunjukkan angka penurunan, dia meminta masyarakat jangan senang dulu dan menganggap kasusnya sudah mulai menurun.

“Karena ternyata ada second transmission (transmisi kedua) pada orang lain, yang terjadi di Lamongan kemarin. Ada satu yang ternyata teman dekat dari peserta pelatihan positif Covid-19,” katanya.

“Karena itu, sekarang masyarakat sudah kembali aktivitas. Karena sudah dua minggu, jalanan kembali ramai. Jangan keburu. Karena kita sebenarnya masih butuh observasi lebih panjang,” ujarnya.

Setidaknya, observasi perlu dilakukan dua minggu dari sekarang atau satu kali masa inkubasi lagi. Pada masa itu, dia harap masyarakat tetap di rumah saja. Baru bisa terlihat apa benar trennya menurun.

Selain itu, Kohar mengakui, ada satu pasien dalam pengawasan (PDP) peserta pelatihan yang sama, meninggal sebelum hasil PCR keluar. Pasien itu adalah Kepala Kantor Kemenag Kota Blitar.

Sebagaimana disebutkan Jamil Mashadi Humas Kantor Kemenag Kabupaten Blitar, yang bersangkutan meninggal pada Jumat (3/4/2020) dan sudah dimakamkan sesuai protap penanganan Covid-19.

Kepada suarasurabaya.net Jamil juga membenarkan, Kepala Kemenag Kota Blitar sempat menggelar pesta pernikahan anaknya pada 13 Maret lalu. Orang-orang yang hadir di acara itu, kata Jamil, saat ini sudah saling menguatkan satu sama lain.

Artinya, kalau ternyata hasil tes PCR atas swab yang sudah diambil dari pasien bersangkutan positif Covid-19, ada potensi yang bersangkutan menjadi transmisi baru penularan dari klaster Asrama Haji.

Klaster Pertama di Jawa Timur

Tim Tracing Gugus Tugas Covid-19 telah memastikan bahwa klaster pertama masuknya SARS CoV-2 di Jawa Timur ada di Malang. Pasien pertama yang dinyatakan positif mulai sakit pada 11 Februari.

“Pasien itu pernah hadir dalam pertemuan internasional. Pertemuan itu berlangsung di Yogyakarta. Begitu dia pulang, nah, sudah, akhirnya menjadi sumber penularan,” ujar Kohar sebagai Ketua Tim Tracing Jatim.

Sayangnya, Kohar tidak merinci 21 klaster yang dia perkirakan. Kemungkinan, tim tracing saat ini masih menelusuri sumber penularan. Tujuannya, untuk mempercepat deteksi orang dengan risiko dan mempercepat penanganannya.

“Melihat banyaknya klaster sumber penularan ini, maka tampak bahwa pada 16 Maret ini paling tinggi (terdeteksi). Ini akan masih berlangsung penularannya. Padahal kita kan perlu memutus rantai penularannya,” ujarnya.

Memang tren orang yang positif Covid-19 pada Sabtu tidak bertambah. Dari grafik, tren kasus juga sudah melambat, tetapi Kohar minta masyarakat tidak lupa adanya kemungkinan penularan transmisi kedua.

Transmisi kedua itu seperti yang terjadi di Lamongan. Adanya warga yang bukan peserta pelatihan tapi dinyatakan positif Covid-19 dan terbukti pernah kontak dengan peserta pelatihan petugas haji sudah menjadi bukti adanya transmisi kedua itu.

“Titip kepada masyarakat, jangan keluar dulu, tetap tinggal di rumah untuk memutus rantai penularan. PSBB yang kami terjemahkan di Jatim isolasi kawasan, masih perlu kita lakukan. Masyarakat kami harap tetap bersabar,” ujarnya.(den/iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Banjir di Tambak Sawah

Pohon Tumbang di Exit Tol Dupak

Kepadatan di Pasar Wadungasri

Truk Muat Jeruk Terguling

Surabaya
Minggu, 31 Mei 2020
32o
Kurs