Sabtu, 31 Oktober 2020

Gerakan Daring Tuntut Penurunan UKT Terus Menggema di Masa Pandemi

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Ilustrasi. Foto: Grafis suarasurabaya.net

Gerakan daring (online) menuntut penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT) terus digaungkan mahasiswa di masa Pandemi Covid-19. Salah satu tagar paling terkenal yaitu #NadiemBelumMendengar dan #NadiemManaMahasiswaMerana.

Tagar yang digaungkan mahasiswa dan aliansi mahasiswa ini mendesak agar Nadiem Makarim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) segera mengeluarkan kebijakan penurunan UKT untuk semua kampus di Indonesia pada masa Pandemi Covid-19 saat ini.

Sebagian aliansi mahasiswa juga menyuarakan tuntutan yang lebih lokal dengan meninta kampusnya berkuliah untuk menurunkan besaran biaya kuliah.

Penelurusan suarasurabaya.net, tagar #NadiemBelumMendengar dan #NadiemManaMahasiswaMerana sempat masuk daftar trending topic di Twitter pada awal Mei 2020 lalu. Sampai 3 Juni 2020 saja, setidaknya sudah ada belasan ribu cuitan menggunakan tagar tersebut.

Berbagai akun ini menyayangkan Kemendikbud yang dianggap tidak mendengarkan aspirasi mahasiswa di masa susah seperti ini. Sejumlah akun mengibaratkan Menteri Nadiem “Menghilang” di saat mahasiswa mencarinya.

“WIIIIIUUUUUU WIUUUUU. Sudah dicari 1x24jam tidak ketemu nih. Masa harus lapor kalau menteri ini hilang tidak ada kabar?” cuit akun @mahasiswaYUJIEM.

“Semoga pak menteri sehat-sehat saja selama masa pandemi ini biar bisa dengerin kita-kita, hehehehe,” cuit akun @Gugat_Airlangga.

Berbagai akun twitter pribadi maupun aliansi mahasiswa, secara umum juga mengeluhkan proses perkuliahan daring yang tidak memanfaatkan berbagai fasilitas kampus tapi besaran UKT tetap dibayarkan tanpa penurunan.

“Kuliah daring, dompet kering,” cuit akun @RimanJoshua.

“Birokrat : mas/mbak biaya operasional tetap jalan walaupun tidak digunakan.
Mahasiswa : lah beban kampus kok mahasiswa yang tanggung? *UUD 1945 pasal 31 ayat 1-5, bahwa pendidikan adalah tanggung jawab negara,” cuit akun @SMIYogyakarta.

“Bayar UKT di tengah pandemi bikin pusing kepala. Kuliah online fasilitas kampus nggak terguna. Beli kouta tanpa subsidi minta siapa??” cuit akun @dieriky.

Selain bergerak secara nasional, sejumlah gerakan lokal per kampus juga meramaikan media sosial. Salah satunya yang dilakukan mahasiswa Unesa Surabaya yang menaikkan tagar #UnesaResah, mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati, Bandung dengan tagar #GunungDjatiMenggugat, mahasiswa Universitas Brawijaya dengan tagar #AmarahBrawijaya, mahasiswa Universitas Negeri Malang dengan tagar #KemanaRektorUM, dan sejumlah kampus lain dengan tagar masing-masing.

Gerakan berbasis daring ini bukan tanpa hasil. Gerakan di Unesa dengan tagar #UnesaResah berhasil mendorong Rektorat Unesa untuk mengeluarkan Surat Edaran yang berisi sejumlah skema penurunan UKT. Tapi, mahasiswa di sejumlah kampus lain masih menunggu.

Secara nasional, gerakan daring mahasiswa sudah mulai didengarkan oleh DPR RI. Saiful Huda Ketua Komisi X DPR RI dalam webinar SKB Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran Baru di Tengah Pandemi Covid-19, Senin (15/6/2020) sore, meminta agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membentuk task force untuk mensupervisi kampus yang belum melaksanakan relaksasi UKT. Ia meminta agar penurunan UKT di masa pandemi bisa benar-benar terlaksana di setiap kampus yang ada di Indonesia. (bas/ipg)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Pengunjukrasa Melintas di Diponegoro

Hujan di Bratang Surabaya

Kecelakaan Melibatkan Dua Truk di Pandaan

Kebakaran Gudang di Simorejo Sari

Surabaya
Sabtu, 31 Oktober 2020
25o
Kurs