Selasa, 7 Desember 2021

Kisah Pemandu Wisata, Bertahan dan Berjuang Bersama Masyarakat di Tengah Pandemi

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Ritno Kurniawan tetap survive sebagai pemandu ekowisata di tengah pandemi Covid-19. Ritno membagikan masker. Foto: Humas Astra

Pandemi Covid-19 tidak mematahkan semangat Ritno Kurniawan pemandu wisata sekaligus pengelola ekowisata arung jeram Air Terjun Nyarai, Lubuk Alum, Sumatera Barat tetap survive, dan menginspirasi masyarakat berjuang bersama lawan Covid-19.

Sejak pemerintah daerah Sumatra Barat menerapkan peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran Covid-19, para pemandu wisata disana, satu diantaranya Ritno Kurniawan, berupaya bertahan hidup karena tidak lagi menerima kunjungan wisatawan dari biasanya setiap bulan sekitar 1.500-2.000 wisatawan.

“Saya berbakti sebagai fasilitator dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat setempat mengenai hal-hal baru dan berguna, termasuk penanggulangan wabah dan cara bertahap hidup. Saya selalu percaya membantu masyarakat memiliki dampak yang luar biasa,” terang Ritno Kurniawan, alumni Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Tanpa hambatan yang berarti, upaya Ritno sapaan Ritno Kurniawan mengajak para pemandu untuk memberikan informasi penanggulangan wabah dan cara bertahan hidup kepada masyarakat dilakukan secara rutin. Hal tersebut dilakukan dengan kesabaran, karena warga sekitar tidak akan bergerak tanpa melihat adanya bukti nyata.

“Saya kembali mendatangi tokoh masyarakat satu per satu untuk memberikan penjelasan tentang peraturan PSBB dengan harapan agar masyarakat dapat disiplin dalam memerangi Covid-19. Bersama warga, kami juga turut berjuang bersama-sama, terutama saling bantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk bertahap hidup,” papar Ritno yang kini juga menjual santapan laut secara online melalui Riku Fresh.

Sejak terjadi pandemi Covid-19, Ritno bersama pemandu wisata lainnya bergerak bersama warga untuk mendistribusikan masker kain melalui gerakan Padang Pariaman Bermasker. Gerakan tersebut mendapat dukungan dari pemerintah setempat untuk mendonasikan sembako dan 1.800 butir telur.

Dukungan pemerintah juga diberikan pada area rafting dengan membebaskan biaya pajak, serta bantuan dari Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) berupa pemberian dana untuk para pemandu yang terdampak. Aksi sosialisasi pemahaman normal baru menjadi rutinitas saat ini yang dilakukan setiap hari bersama para pemandu wisata lainnya.

Ritno memastikan akan menerapkan protokol kesehatan untuk menghidupkan area ekowisata, seperti halnya pembatasan pengunjung, satu rombongan terdiri dari lima wisatawan dan satu pemandu, pengecekan suhu tubuh, fasilitas cuci tangan dan penggunaan masker memasuki area sekitar, terkecuali bagi para wisatawan wahana rafting.

Sementara itu, terkait kecintaan Ritno pada hutan, berhasil diwujudkan ide pelestarian Hutan Gamaran menjadi kawasan ekowisata dengan mengajak para pembalak liar untuk menjadi pemandu wisata Air Terjun Nyarai yang resmi dibuka pada April 2013 lalu.

Dengan pemahaman dan penjelasan yang dilakukan secara konstan, Ritno berhasil mengubah perilaku sosial warga sekitar dan meningkatkan pendapatan dari pekerjaan sebelumnya.

“Para penebang kayu mendapatkan penghasilan Rp150.000 selama satu minggu. Ketika beralih sebagai pemandu wisata, mereka mampu mendapatkan Rp80.000 per hari. Sampai saat ini para pemandu selalu bekerja tiga hari dalam seminggu untuk mendampingi para pengunjung,” ujar Ritno yang gemar fotografi dalam pertemuan secara daring.

Semangat dan dedikasinya mampu menghasilkan peluang mata pencarian baru, menjadikan Ritno Kurniawan sebagai penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2017 bidang Lingkungan dengan julukan Transformer Pembalak Liar.

Hingga saat ini, sosok yang berusia 34 tahun itu mampu memimpin 170 pemandu, 55 diantaranya telah terverifikasi oleh Himpunan Pemandu Indonesia (HPI) dan 80% personilnya merupakan mantan pembalak liar. Sedangkan status Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) telah didapatkan.

Sebagai tanda apresiasi dan dukungan dari Astra, SATU Indonesia Awards yang pada tahun ini berusia 11 tahun, meluncurkan tambahan kategori apresiasi khusus, yakni Pejuang Tanpa Pamrih Di Masa Pandemi Covid-19.

Apresiasi akan diberikan kepada lima anak muda yang telah berjuang tanpa pamrih mencegah penyebaran Covid-19 serta penanganan dampak sosial di seluruh Indonesia. Dan semangat Ritno dalam melestarikan lingkungan sekitar sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa.(tok/tin/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Selasa, 7 Desember 2021
30o
Kurs